Aksaraini's

Blog EntryPercakapan Malam ( A Short Story)Jan 25, '07 8:40 AM
for everyone
Malam semakin larut tetapi aku malah semakin terjaga. Jam kini ternyata telah menunjukkan pukul dua belas dan siaran radiopun semakin tidak jelas. Hanya berisi cerita gadis-gadis kesepian yang ingin didengarkan dan penyiar yang sok asik sendiri. Setidaknya mereka berusaha didengarkan, tidak seperti aku yang terlalu gengsi, bahkan hanya untuk terlihat manusiawi. Takut diketahui terlalu banyak memiliki hati, lantas mengundang datang seseorang tak berhati yang berusaha mencuri hatiku dan membawanya pergi. Maka jadilah aku termenung disini, bersama beberapa batang teman yang mampu kubeli, yang mau merasuk ke dalam diri dan merasakan setiap luka disetiap aliaran darahku, kemudian merenggangkan ototku yang sedari tadi tegang. Teman yang membuatku kembali teringat pada malam dua hari yang lalu.


Malam itu lebih larut dari malam ini. Mungkin malah bisa disebut dini hari. Malam itu, aku berada di kota kelahiranku, kota yang menghidupi ibuku. Saat itu, aku terbangun dari tidur lelapku yang langka entah karena apa. Rasanya seperti dibangunkan oleh suatu bisik lembut yang tidak membuatku pening saat benar-benar terjaga. Dan saat itu pula aku melihat ibuku duduk di ruang tengah dengan lampu kuning yang remang sambil menonton televisi. Rupanya dia tidak benar-benar menontonnya karena kudapati matanya kosong ke depan. Seperti hanya raganya saja yang menjejak lantai, tetapi tidak jiwanya.


Akupun duduk disampingnya. Kutanya ada apa tetapi ibuku malah diam saja. Baru selang beberapa menit kemudian ibu berkata bahwa besok ibu akan menjual cincinnya. Cincin kecil di jari manis yang melingkar penuh tanpa ujung pangkal. Mengisyaratkan harapan akan hubungan yang tak berkesudahan. Juga memuat komitmen jangka panjang yang dua puluh tahun lalu terikrarkan.


Cincin yang seharusnya sepasang itu kini tinggal satu-satunya, karena cincin milik ayah telah dijual sebelumnya -dua puluh tahun yang lalu saat harus menebusku dari kamar bersalin. Kini, yang tidak ada bukan hanya cincin itu, tetapi juga pemiliknya.


Toh cincin hanya benda dan kuliahmu lebih berharga sehingga buat ibupun itu tak mengapa, begitu katanya. Tetapi aku tahu, tak begitu adanya. Aku tahu, karena dialah yang telah menyumbangkan sifat perasa kedalam jiwaku. Aku juga tahu, hanya itu yang mengikat ibuku pada mendiang ayahku, selain aku dan dua adikku. Bahkan rumah masa kecilku saat segalanya masih berbunga telah dijual dan digantikan oleh rumah kontrakan dua kamar dengan harga yang naik setiap tahunnya.


Aku ingin berkata jangan, tapi itu pasti tidak akan membuat segala sesuatunya lebih mudah. Namun akupun tidak rela jika ibuku harus menjual cincin pernikahannya agar aku bisa terus kuliah. Tetapi toh nyatanya aku hanya mampu bertanya apa tidak ada barang lain yang bisa dijual selain emas kecil yang sedari tadi diputar-putar olehnya. Sepersekian detik selanjutnya aku sadar bahwa pertanyaan itu makin mempertegas bahwa kami sudah tidak memiliki apa-apa yang berharga. Keadaan yang sungguh berbeda dengan keadaan kami sepuluh tahun yang lalu.


Saat itu, aku bahkan mampu memiliki boneka Barbie keluaran terbatas yang dibeli ayahku di Australi saat dia harus dinas beberapa hari. Belum lagi koleksi kartu pahlawan perempuan Sailormoon yang hingga kini teronggok di lemari. Kalau tak salah ingat jumlahnya sedikitnya mencapai ratusan keping. Padahal saat itu kartu yang termurah seharga seribu sedangkan kartuku rata-rata seharga lima ribu.


Sekarang, seperti segala sesuatunya, bergerak dan berubah. Jika dulu mainan masa kecilku adalah koleksi boneka Barbie yang bahkan tidak terlalu kusukai (namun tetap saja dibelikan ayahku. Katanya, anak perempuan harusnya bermain boneka, bukannya ketapel kayu untuk mencuri mangga tetangga). kini adik-adikku bahkan berebutan untuk sekedar bermain ular tangga. Sedang aku anak tertua yang diam-diam diharapkan menjadi tumpuan keluarga belum bisa menghasilkan apa-apa, hanya sederet pengeluaran yang bertambah tiap bulannya.


Pertama kali aku diterima di institusi seni rupa, aku sudah bilang bahwa biaya praktek kuliah akan sangat memakan biaya. Tetapi ibu terus memaksa untuk mengambilnya karena ibu tahu betapa aku menyukai bertutur dengan rupa, selain merangkai kata-kata. Saat itu, keadaan ekonomi keluarga perlahan-lahan menurun karena ayahku beberapa kali mengalami kerugian dalam berwiraswata (meskipun kami sekeluarga tidak mau mengakuinya. Terlalu pahit kukira. Menelan kenyataan kerajaan kecil yang pelan-pelan dibangun selama duapuluh tahun kini tinggal seumur jagung). Maklum saja, mini market kini bertebaran dimana-mana, dan pemilik modal kecil seperti kami hanya bisa menghitung hari. Delapan bulan setelah usaha kami gulung tikar, giliran ayahku yang tutup usia. Stoke usia dini, kata dokter. Tetapi kita semua tahu, bukan penyakit itu yang membunuhnya. Beban pikiran yang menggantung diatas kepalanyalah yang perlahan-lahan memakan jiwanya. Mamatahkan semangat hidupnya.


Dan kini ibuku bekerja serabutan untuk menyambung jalannya keluarga. Pagi hari menjual gorengan dan kudapan hingga petang, malamnya mengerjakan pesanan jahitan yang selain musiman juga semakin jarang. Maklum saja sekarang belum masuk musim lebaran, ditambah toko pakaian siap pakai yang rasanya semakin hari semakin marak saja. Memang sesekali aku mendapat proyekan yang hasilnya lumayan besar, namun tetap saja jatuhnya tetap tambal sulam. Pernah aku mencoba untuk menjadi desainer freelance di sebuah perusahaan kecil yang baru merintis, namun pada bulan ke empat masa kerjaku, perusahaan tersebut gulung tikar.


Malam ini terasa sangat panjang, seperti tak berkesudahan. Entah aku termenung berapa lama hingga akhirnya aku jatuh tertidur, menyerah pada pelukan malam. Dalam tidurku aku bermimpi esoknya segala sesuatu akan kembali seperti dulu. Lengkap dengan ayahku yang selalu membangunkanku untuk solat subuh. Bahkan suaranya saat mengaji seusai solat tidak seperti ilusi.


Pagi-pagi sekali aku mengantarkan ibuku ke Pasar terdekat dari rumahku.



Terinsiprasi dari lantunan tentang kehidupan,

Januari 2006

Nur Aini



Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.