Malam
semakin larut tetapi aku malah semakin terjaga. Jam kini ternyata
telah menunjukkan pukul dua belas dan siaran radiopun semakin tidak
jelas. Hanya berisi cerita gadis-gadis kesepian yang ingin
didengarkan dan penyiar yang sok asik sendiri. Setidaknya mereka
berusaha didengarkan, tidak seperti aku yang terlalu gengsi, bahkan
hanya untuk terlihat manusiawi. Takut diketahui terlalu banyak
memiliki hati, lantas mengundang datang seseorang tak berhati yang
berusaha mencuri hatiku dan membawanya pergi. Maka jadilah aku
termenung disini, bersama beberapa batang teman yang mampu kubeli,
yang mau merasuk ke dalam diri dan merasakan setiap luka disetiap
aliaran darahku, kemudian merenggangkan ototku yang sedari tadi
tegang. Teman yang membuatku kembali teringat pada malam dua hari
yang lalu.
Malam
itu lebih larut dari malam ini. Mungkin malah bisa disebut dini hari.
Malam itu, aku berada di kota kelahiranku, kota yang menghidupi
ibuku. Saat itu, aku terbangun dari tidur lelapku yang langka entah
karena apa. Rasanya seperti dibangunkan oleh suatu bisik lembut yang
tidak membuatku pening saat benar-benar terjaga. Dan saat itu pula
aku melihat ibuku duduk di ruang tengah dengan lampu kuning yang
remang sambil menonton televisi. Rupanya dia tidak benar-benar
menontonnya karena kudapati matanya kosong ke depan. Seperti hanya
raganya saja yang menjejak lantai, tetapi tidak jiwanya.
Akupun
duduk disampingnya. Kutanya ada apa tetapi ibuku malah diam saja.
Baru selang beberapa menit kemudian ibu berkata bahwa besok ibu akan
menjual cincinnya. Cincin kecil di jari manis yang melingkar penuh
tanpa ujung pangkal. Mengisyaratkan harapan akan hubungan yang tak
berkesudahan. Juga memuat komitmen jangka panjang yang dua puluh
tahun lalu terikrarkan.
Cincin
yang seharusnya sepasang itu kini tinggal satu-satunya, karena cincin
milik ayah telah dijual sebelumnya -dua puluh tahun yang lalu saat
harus menebusku dari kamar bersalin. Kini, yang tidak ada bukan hanya
cincin itu, tetapi juga pemiliknya.
Toh
cincin hanya benda dan kuliahmu lebih berharga sehingga buat ibupun
itu tak mengapa, begitu katanya. Tetapi aku tahu, tak begitu adanya.
Aku tahu, karena dialah yang telah menyumbangkan sifat perasa kedalam
jiwaku. Aku juga tahu, hanya itu yang mengikat ibuku pada mendiang
ayahku, selain aku dan dua adikku. Bahkan rumah masa kecilku saat
segalanya masih berbunga telah dijual dan digantikan oleh rumah
kontrakan dua kamar dengan harga yang naik setiap tahunnya.
Aku
ingin berkata jangan, tapi itu pasti tidak akan membuat segala
sesuatunya lebih mudah. Namun akupun tidak rela jika ibuku harus
menjual cincin pernikahannya agar aku bisa terus kuliah. Tetapi toh
nyatanya aku hanya mampu bertanya apa tidak ada barang lain yang bisa
dijual selain emas kecil yang sedari tadi diputar-putar olehnya.
Sepersekian detik selanjutnya aku sadar bahwa pertanyaan itu makin
mempertegas bahwa kami sudah tidak memiliki apa-apa yang berharga.
Keadaan yang sungguh berbeda dengan keadaan kami sepuluh tahun yang
lalu.
Saat
itu, aku bahkan mampu memiliki boneka Barbie keluaran terbatas
yang dibeli ayahku di Australi saat dia harus dinas beberapa hari.
Belum lagi koleksi kartu pahlawan perempuan Sailormoon yang
hingga kini teronggok di lemari. Kalau tak salah ingat jumlahnya
sedikitnya mencapai ratusan keping. Padahal saat itu kartu yang
termurah seharga seribu sedangkan kartuku rata-rata seharga lima
ribu.
Sekarang,
seperti segala sesuatunya, bergerak dan berubah. Jika dulu mainan
masa kecilku adalah koleksi boneka Barbie yang bahkan tidak terlalu
kusukai (namun tetap saja dibelikan ayahku. Katanya, anak perempuan
harusnya bermain boneka, bukannya ketapel kayu untuk mencuri mangga
tetangga). kini adik-adikku bahkan berebutan untuk sekedar bermain
ular tangga. Sedang aku anak tertua yang diam-diam diharapkan
menjadi tumpuan keluarga belum bisa menghasilkan apa-apa, hanya
sederet pengeluaran yang bertambah tiap bulannya.
Pertama
kali aku diterima di institusi seni rupa, aku sudah bilang bahwa
biaya praktek kuliah akan sangat memakan biaya. Tetapi ibu terus
memaksa untuk mengambilnya karena ibu tahu betapa aku menyukai
bertutur dengan rupa, selain merangkai kata-kata. Saat itu, keadaan
ekonomi keluarga perlahan-lahan menurun karena ayahku beberapa kali
mengalami kerugian dalam berwiraswata (meskipun kami sekeluarga tidak
mau mengakuinya. Terlalu pahit kukira. Menelan kenyataan kerajaan
kecil yang pelan-pelan dibangun selama duapuluh tahun kini tinggal
seumur jagung). Maklum saja, mini market kini bertebaran dimana-mana,
dan pemilik modal kecil seperti kami hanya bisa menghitung hari.
Delapan bulan setelah usaha kami gulung tikar, giliran ayahku yang
tutup usia. Stoke usia dini, kata dokter. Tetapi kita semua
tahu, bukan penyakit itu yang membunuhnya. Beban pikiran yang
menggantung diatas kepalanyalah yang perlahan-lahan memakan jiwanya.
Mamatahkan semangat hidupnya.
Dan
kini ibuku bekerja serabutan untuk menyambung jalannya keluarga. Pagi
hari menjual gorengan dan kudapan hingga petang, malamnya mengerjakan
pesanan jahitan yang selain musiman juga semakin jarang. Maklum saja
sekarang belum masuk musim lebaran, ditambah toko pakaian siap pakai
yang rasanya semakin hari semakin marak saja. Memang sesekali aku
mendapat proyekan yang hasilnya lumayan besar, namun tetap saja
jatuhnya tetap tambal sulam. Pernah aku mencoba untuk menjadi
desainer freelance di sebuah perusahaan kecil yang baru
merintis, namun pada bulan ke empat masa kerjaku, perusahaan tersebut
gulung tikar.
Malam
ini terasa sangat panjang, seperti tak berkesudahan. Entah aku
termenung berapa lama hingga akhirnya aku jatuh tertidur, menyerah
pada pelukan malam. Dalam tidurku aku bermimpi esoknya segala sesuatu
akan kembali seperti dulu. Lengkap dengan ayahku yang selalu
membangunkanku untuk solat subuh. Bahkan suaranya saat mengaji seusai
solat tidak seperti ilusi.
Pagi-pagi
sekali aku mengantarkan ibuku ke Pasar terdekat dari rumahku.
Terinsiprasi
dari lantunan tentang kehidupan,
Januari
2006
Nur
Aini