Ingatanku
melayang kembali pada pagi yang lembut di kota itu. Saat angin
menerpa wajahku, merasakan kesejukan sekaligus duka di kota yang
indah itu. Pagi saat aku bersiap menyiapkan makanan pagi untuk
sarapan anggota tim, atau saat kita bertukar tawa dan juga canda di
antara bilahan bamboo yang diserut untuk selanjutnya menjadi property
dari taman bermain anak-anak yang sedang kita bangun. Taman bermain
untuk anak yang trauman karena gempa di kota budaya itu. Kamu, yang
dulu sedingin es batu, kini meleleh tanpa harus kehilangan arah.
Melemah tetapi malahan bertambah kuat. Absurd, memeang. Tetapi aku
tahu, kamu pasti mengerti maksud aku.
Ingatankupun
menari diantara timbunan reruntuhan yang ternyata memnyimpan cerita
baru untuk kita. Sebuah kesempatan yang ternyata sudi untuk datang
dua kali. Di antara reruntuhan itu, cerita kembali memutar rodanya.
Saat kita mandi berbatas dinding reruntuhan sambil sesekali bercanda.
Aku ingat cerita-cerita tentang mu, tentangku. Atau saat
batang-batang tebu yang telah masak dan manis legit terbelah dan
membasahi lidah keringku. Tahu tidak, itu pertama kalinya aku
merasakan air tebu lagsung dari tubuhnya. sebenarnya pertama kali
benar adalah saat aku berada di posko pertama yang tidak ada kamu.
Namun, tebu kali ini terasa jauh lebih manis dan segar.kamu tentu
tahu sebabnya.
Ingatanku
juga terbang dimalam terakhir kita di Jogja, saat kamu marah padaku.
Memang salahku. Harusnya aku lebih paham kamu, karena aku mengenalmu
lebih dulu. Sebuah perselisihan yang diakhiri petualangan yang
mengantarkanku pada suatu kisah singkat yang teramat indah untuk
dilupakan.
Dan
kini, meskipun aku harus duduk disini, mengenang semua kisah yang
takkan berkunjung kembali, takkan ada sesal di hati. karena cinta
datang dan pergi dengan alasannya sendiri. Dan karena alasan mengapa
kita harus menapaki jalan bersama itu telah usai, tak ada yang perlu
disesali.
Biarkan
kenangan-kenangan itu hidup dihati tanpa ada prasangka yang
mengabuti.