Aksaraini's

Blog EntryMarried by AccidentJun 2, '07 12:43 PM
for everyone
Sabtu siang ini aku menonton Oprah Winfrey Show. Kali ini talk show America tersebut membahas tentang seorang perempuan yang membunuh anaknya sendiri. Tidak disebutkan jenis kelamin anak yang meninggal tragis sesaat setelah memecah tangis pertama di muka bumi ini. Perempuan berumur 15 tahun itu, sebut saja namanya Alice, hamil karena hubungan pranikah dengan kekasihnya, Tom. Setelah mengetahui kehamilannya, mereka sepakat untuk melahirkan anak tersebut yang selanjutnya akan dibuang. Berbagai cara dilakukan untuk menutupi kehamilan tersebut. Mulai dari mengurangi porsi makan (hal ini mudah baginya karena sebelum hamilpun dia mengidap anoreksia dan bulimia), semakin sering olah raga berat, hingga tiduran terlentang dengan Tom berdiri di atas perutnya! Praktis bayi tersebut lahir dengan kondisi cacat!

 

Ironisnya, bayi yang rencananya akan dibuang itu langsung ditikam Alice dan mati seketika setelah Alice menyadari anak tersebut memiliki cacat pada bagian wajah. Saat Tom datang, bayi mereka dimasukkan ke dalam tas lantas dibuanglah bayi tersebut ke parit daerah setempat. Peristiwa ini baru terungkap 6 bulan kemudian sesaat setelah Alice mengaku pada pacar barunya, Max ketika Max melamarnya. Pengakuan tersebut terdengar oleh salah satu warga yang kemudian melaporkan berita tersebut pada polisi.

 

Saat aku mendengar tuturan kisah ini, ingatanku melayang pada seorang ‘adik kesayanganku’, seorang perempuan yang juga mengalami kejadian hamil di luar nikah. Peristiwa saat dia menangis didepanku lantas menceritakan hal tersebut pertama kali kembali nyata dalam ingatan. Saat kami akhirnya menangis bersama dan sedikit banyak melalui hal tersebut bersama. Entah mengapa saat itu aku memaklumi tindakannya, bahkan serta-merta aku semakin menyayangi dan ingin menjaganya. Karena apa? Karena aku yakin dia adalah perempuan baik yang pada suatu titik menjejakkan langkah yang tidak tepat. Apakah sebuah kesalahan tersebut menjadikan dia total sebagai seorang yang buruk? Menurut aku tidak. Karena manusiawi seorang insan manusia khilaf, tetapi atas izin dan ridhoNyalah manusia menyadari kesalahan tersebut kemudian memohon ampun pada Tuhan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Toh kesalahan juga tidak pernah mutlak berada dalam satu pihak. Pasangan, lingkungan dan cara didik orang tua jelas mengambil peranan yang juga penting. Aku memahami upaya dia mencari sosok figur ayah di luar keluarga dan saat beranjak dewasa berusaha menemukan figur tersebut dalam kehidupan romantismenya, karena akupun mengalami proses yang kurang lebih sama. Pemberontakan dan kemarahannya jelas merupakan manifestasi kekecewaan yang akut pada masa kecilnya. Lagipula, get real? Bukan dia saja kan yang melakukan hubungan pranikah? Apakah yang melakukan hubungan pranikah tetapi tidak hamil namun hingga kini tidak merasa menyesal atau sekedar bersalah (lantas menganggap diri lebih baik dengan perempuan yang ‘sialnya’ terlalu subur untuk menampung sperma) lebih baik dibandingkan dengan orang yang melakukan hubungan pranikah lantas hamil namun sangat menyesali perbuatanNya dan pada akhirnya mencoba menemukan kembali jalan mendekat padaNya? Hamil atau tidak kan hanya tergantung hoki, atau kalau dalam agamaku lebih dikenal dengan sebutan takdir. Masih menurutku, Tuhan dengan segala sifat-sifatNya menyayangi kita dengan sangat luar biasa yang tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata sehingga seberapa besarpun dosa kita, asal kita menyesal dan tidak mengulangi hal tersebut kemudian berusaha mencari jalan untuk mendekatkan diri kembali Tuhan, maka Tuhan akan memaafkan kita. Bukankah beberapa sifat Tuhan adalah Maha Pengasih, Penyayang, Pemaaf dan Maha Tahu Segalanya (dan kita yang manusia malah bersikap sok tahu yang pada akhirnya merasa berhak untuk menjustifikasi sesama manusia?). Dan lain halnya dengan manusia, pintuNyalah yang selalu terbuka saat seluruh pintu berlapis baja.

 

Sekarang aku melihat ‘adik kesayanganku’ tumbuh menjadi perempuan yang kuat, sangat keibuan namun di sisi lain tetap rock and roll! Aku bangga dengan pencapaian-pencapaian yang telah dia lakukan lantas bertransformasi menjadi sesosok perempuan yang sangat hebat meskipun aku tetap tidak menutup mata bahwa dia masihlah seorang perempuan belia dengan segala kekurangan dan  kealpaannya (seperti halnya aku). Andaikan Alice memberikan kesempatan hidup bagi anaknya, aku yakin dia akan mengalami suatu titik dimana dia bersyukur sekali memberi ‘nafas’ pada seorang bayi mungil yang tumbuh semakin lama semakin mempesona, lucu, pintar dan tampan dari rahimnya. Seperti halnya kata ‘adik kesayanganku’,

“semua rasa sakit, marah, lelah, air mata dan kecewa  ini terbayar saat melihat anak yang aktif, sehat, tampan dan lucu menatapku dengan binar mata penuh kasih sayang. Atau saat dia memergokiku mencoba rokok saat terlalu penat lantas berkata, ‘bubu, jangan ngeroko, nanti bubu sakit. Mas kan sayang sama Bubu..”

 

Banyak manusia hebat yang kutemui di dunia ini. Ada yang dengan keuletannya mampu menghidupi seluruh keluarganya pada usia 20 tahun (itu kamu, Ke), ada yang mencapai turning pointnya setelah jatuh bangun dalam kehidupannya dan sekarang menjadi orang kepercayaan PBB meneliti Hak Perempuan di mata hukum Indonesia (itu Ka Tarlen) atau bapak ibu bersahaja yang kutemui di Pasar induk Ciroyom tengah malam yang menjajakan dagangannya dengan senyum tulus dan jiwa sederhana ketika hampir seluruh orang berselimut di atas kasur, entah tidur atau meratapi kesepiannya. Dan kamu adalah salah seorang orang hebat yang kutemui, yang berani mengambil tanggung jawab besar diusia yang sangat belia. Lebih jauh, kamu mampu menjadi a gorgeous mother and a great wife for your family.

 

Untuk ‘adik kesayanganku’, selamat karena pada akhirnya kamu telah melewati salah satu cobaan terbesar dalam hidupmu dan melaluinya dengan sangat baik. Kamu ingat kan setiap orang besar pernah melakukan satu kesalahan terbesar dalam hidupnya? Toh lagipula hanya emas yang di uji. Iya kan say? Terakhir untuk seluruh perempuan yang hamil di luar nikah atau yang telah melakukan kesalahan besar atau kecil, percayalah bahwa segala sesuatu terjadi dengan alasan dan tujuannya sendiri.

 

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi!

 

 

Cigadung, Nur Aini

Revisi, 13 Mei 2007


berrydelice wrote on Jun 11, '07
saya juga nonton Oprah yang itu...
someonefromthesky wrote on Dec 30, '07
Memang benar, di saat seseorang menyesal melakukan perbuatan laknat itu, ia lebih baik daripada orang yang berkali- kali berzina dan tidak pernah menyesal sama sekali. Yang sudah terjadi sudah tak bisa diubah lagi, yang belum terjadilah yang harus diusahakan. Mengatakan agar orang2 yang telah bertobat dari kesalahan agar jangan putus asa saja, itu tidak cukup. Kalau ingin ada perubahan, maka berubahlah. Titipkan pesan pada 'adik'mu agar mendidik anaknya dengan baik dan jangan sampai anaknya itu mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya. Kita bisa merubah dunia, bila kita memulainya dari anak- anak kita,estafet ke seterusnya, generasi selanjutnya pewaris dunia. Huf...kalo dipikir-pikir, jadi orangtua itu tanggung jawabnya gede baaanggeet....
satriadarma wrote on Jan 19
inspired banget bu.... makasih. segala sesuatu memang terjadi dengan alasan dan tujuannya sendiri... semoga kelak dimasa depan nanti bisa jadi lebih baik buat anak2 ku... T_T
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.