Beberapa bulan lalu sempat santer berita seorang
ulama kondang Indonesia yang sebelumnya selalu menyisipkan pesan “sebaiknya
tidak poligami” dalam tiap dakwahnya malah mengambil janda kembang sebagai
isteri keduanya. Praktis AA Gym yang meroket karena kelihaiannya menyentuh hati
perempuan, baik tua maupun belia berada dalam posisi yang tidak menyenangkan.
Semua orang merasa berhak menjustifikasi, lantas marah dan melenggang pergi.
Mendadak ‘emoh’ menyempatkan diri melangkahkan kaki ke Daarut Tauhid atau
sekedar menyalakan TV untuk mendengar ceramah-ceramahnya yang sejujurnya sangat
menyejukkan hati.
Sebenarnya apakah salah berpoligami? Jawabannya jelas
tergantung dari sudt pandang. Jika berlandaskan ajaran Islam yang diperkuat
dengan ayat Al-Quran mungkin dapat dibenarkan. Tapi seberapa bijak manusia
menafsirkan Al-Quran? Toh tinta sejarah telah mencatat penyalahgunaan agama
untuk kepentingan-kepentingan yang sangat tidak bijaksana. Lagipula tafsiran
Qur An selama ini tampaknya sering amnesia bahwa Islam itu agam universal,
bukan sekedar agama untuk bangsa Mekkah, mesir atau Negara-negara di belahan
Timur Tengah sana. Contohnya saat temanku yang beragama Katholik dengan ayah
islam dan Ibu katholik mengalami penganiayaan dari orang muslim secara verbal.
Saat itu dia sedang bermain dengan temannya, lantas ibunya menarik anaknya
seraya berkata, “jangan bermain dengan orang kafir!”. Temanku yang saat itu
masih kecil lantas memberi penilaian buruk pada agama yang dipercaya ibunya.
Ditambah dengan khutbah masjid disekitar rumahnya yang mendiskreditkan non
muslim, tidak heran di dunia internasional islam dilihat sebagai agama teroris.
Padahal islam jelas mencintai kedamaian (ingat saat pertama kali Wali Songo
masuk ke Nusantara? Mereka membenahi perekonomian terlebih dahulu sebelum
akhirnya berdakwah di Bumi Nusantara).
Kembali ke poligami yang bisa benar atau salah
tergantung kacamata yang digunakan. Jika menggunakan kacamata kemanusiaan yang
selanjutnya menempatkan perempuan sebagai manusia yang memiliki hati, jiwa,
pikiran, perasaan, cinta dan sakit hati, poligami menjadi tidak bijaksana. Toh
jika keadaan dibalikkan apakah seorang pria sanggup menghadapi poliandri?
Karena jika dilihat dari kacamata kemampuan seksual, perempuan dianugrahi
kemampuan untuk merasakan multiorgasme, tidak seperti kebanyakan lelaki yang
menyerah pada akhir ronde pertama. Karena egolah, sampai kiamatpun lelaki tidak
akan pernah menyetujui poliandri namun bersorak sorai mengusung hak poligami.
Memang kondisi poliandri dekat dengan suudzon dan
fitnah sehingga tidak diterima secara meluas. Namun legitimasi hak poligami
atas dasar :
- perempuan lebih
banyak disbanding lelaki
- insting dasar lelaki
memiliki lebih dari satu istri
jelas kekanak-kanakan, egois dan tidak manusiawi. Kalaupun
ada syarat untuk pada akhirnya seorang suami layak berpoligamiyang beberapa
diantaranya adalah mampu dan adil, standar tersebut sangatlah subjektif. Mampu
itu apa? Memiliki rumah sendiri? Sanggup menyekolahkan anak? Setinggi apa?
Menafkahi isterinya? Seperti apa dan sebesar apa? Lahir bathinkah? Atau sekedar
lahir saja? Toh jika keadaannya sudah begini para lelaki itu mendadak ingat
untuk hidup sederhana asal sesuai aturan agama padahal sebelumnya rakus luar
biasa.
Dan perihal adil. Dalam salah satu ayat Al-Quran
mengungkapkan bahwa manusia tidak pernah bias berbuat adil. Karena sifat dasar
manusia itu adalah cenderung pada sesuatu hal, apalagi jika sudah menyangkut
hati dan pikiran. It’s hard to love and be wise, right?
Kembali ke AA Gym dan the Ninih. Teteh bisa saja
bilang ke publik dia ikhlas dan rela, meski tetap tak bisa menyembunyikan jejak
airmata di cekung pipinya, karena salah satu syarat utama lelaki boleh
berpoligami setelah mendapat izin dari isterinya. Tapi ikhlas seperti apa?
Bukannya saya meragukan keikhlasan dan keparipurnaan hatinya untuk menerima salah satu cobaan
terberat untuk perempuan ini, tetapi jujur dalam hati saya masih memiliki
sejuta pertanyaan yang belum menemui jawaban logis dan memuaskan.
Mungkin syarat-syarat untuk pada akhirnya seorang
lelaki bisa berpoligami tampak pada cerita Mahabrata. Sembodro yang memiliki lima suami mungkin merupakan representasi sifat-sifat
yang harus ada pada lelaki untuk memimpin dunia akhirat. Lantas mengapa
dibutuhkan lima tubuh lelaki untuk seorang perempuan seperti
Sembodro? Dan mengapa seorang perempuan bisa menjadi isteri yang baik untuk lima orang lelaki dengan karakter-karakter kuat yang
sangat berbeda satu sama lain? Mungkin hal tersebut menyiratkan tahap-tahap
yang harus dilalui lelaki sebelum akhirnya memiliki lebih dari satu isteri.
Bahwa seseorang yang memiliki sifat seperti Yudhistira, Ardjuna, Bima, Nakula
dan Sadewalah yang baru sempuna dirinya sebagai suami dan selanjutnya berhak
mengambil isteri kedua dengan izin tentu saja. Tapi tetap saja, Raja-raja Jawa
zaman dulu terkenal dnegan selirnya yang luar biasa banyaknya bukan? (tell me
about that!)
Oke, oke, kembali ke The Ninih. Kenyataannya dia
adalah perempuan paruh baya yang telah 7 kali melahirkan dengan pekerjaan yang
dia peroleh dari kesuksesan suaminya di media dakwah Islam. Jika dia memutuskan
untuk bercerai dan ketukan palu hakim memutuskan anak-anaknya ikut The Ninih,
dengan apa dia menghidupi anak-anaknya? Bukannya melangkahi rizki, rahmat dan
ketentuan Tuhan, tapi ibu mana yang tega melihat anaknya berjalan
terpatah-patah menyongsong hati depannya, jika ada jalan untuk melaju pesat
meski hatinya sebagai perempuan tersayat? Pilihan kedua semua anak ikut suami
juga tidak mudah. Mana ada seorang ibu yang sanggup berpisah dengan
anak-anaknya? Pil pahit kehidupan itupun ditelannya bulat-bulat dengan penuh
sabar dan ikhlas.
Saya tidak menyalahkan atau memojokkan pilihan the
Ninih. Itu pilihan yang sangat bijaksana, sejujurnya. Sayapun tidak tahu harus
melakukan apa bila diposisinya. Terjebak, dalam kamus saya. Saya hanya
menyayangkan the Ninih lupa bahwa dirinya adalah public figur. Serta-merta
muncul paradigma di masyarakat bahwa perempuan belum paripurna jika tidak
seikhlas dia (padahal semua orang berbeda dan dengan cara mereka sendiri pada
akhirnya menjadi manusia yang hebat). Hal ini mengingat minimnya daya
pembelajaran masyarakat Indonesia sekarang ini yang masih rendah sehingga belum bijak
menganalisa masalah. Lebih jauh keadaan mental seperti itu makin memperkuat
budaya kultus individu pada figure pemimpin-pemimpinnya.
Sekali lagi saya tidak ingin menjustifikasi disini,
atau sekedar ‘reseh’ mengurusi rumah tangga orang. Tapi karena ini menyangkut
perkembangan Indonesia, maka saya merasa wajib unjuk bicara meski sebatas
blog pribadi. Saya sadar saya, the Ninih, AA Gym dan semuanya adalah manusia
yang sempurna karena kelebihan dan kekurangannya. Saya di sini hanya berusaha
menempatkan sesuatu pada tempatnya. Inipun dengan subjektifitas yang akut
(meski berusaha keras objektif) dan minimnya pengetahuan pada banyak hal.
Seyogyanya dengan kesadaran itulah, budaya kutus
individu ditempatkan sesuai porsinya, bukannya membabi buta tanpa sedikitpun
logika. Beberapa fatalnya akibat kultus individu yaitu :
- masyarakat jadi
menyalahkan ajaran yang dibawanya, yang dalam hal ini adalah islam. Padahal
jelas yang salah bukanlah agamanya, namun orang-orangnya dan penyalah
tafsiran kitab sucinya
- masyarakat jadi
melupakan budi baiknya selama ini. Bahkan tidak sedikit orang yang
meneladaninya. Karena apa? Karena saat masyarakat memandang individu
sebagai figur, secara tidak sadar masyarakat tersebut mencabut hak
individu yang menjadi figur tersebut untuk berbuat salah, atau dalam
bahasa halusnya, manusiawi.
Tulisan ini sebenarnya hanya berusaha menjadi
trigger, baik untuk diri sendiri maupun untuk pembaca sehingga semoga dikemudia
hari terjadi diskusi yang sehat dan mencerahkan. Agar kita semua tidak asal
poligami. Agar kita semua tidak asal menikah lantas cerai. Agar kita semua
tidak asal memuja atau mencela. Agar kita belajar dari sejarah dan semoga tidak
mengulang kesalahan yang smaa. Dan agar kita semua berusaha dan terus berusaha melakukan
yang terbaik untuk kemajuan bersama.
Dan Tuhan dipatuhi dengan Ilmu
Jakarta Selatan di meja makan, Nur Aini 17 Mei 2007
Dini hari