Secara gak sengaja, malam ini –untuk membunuh kekesalanku karena nggak dapet travel ke Jakarta-, aku ke Warnet bareng Rilies Ogi. Saat itu, seperti biasa, aku memenuhi Bulletin Board dengan limbah-limbah pikiran yang seakan tak mau berhenti. Yah, memang sudah bukan rahasia lagi bulletin board menjadi ‘wadah spiritualku’ untuk memanipulasi pikiran untuk sedikit melambat. Setidaknya kini aku tahu salah satu cara untuk sekedar berhenti berpikir. Saat itu, aku juga membuka blogku dan beberapa temanku yang salah satunya adalah Tarlen. Di salah satu blognya, ada judul yang sangat menarik “Last Time I Committed Suicides”.
Aku langsung berpikir bahwa dia benar-benar penulis yang baik karena bisa membuat judul singkat padat menarik satirik seperti itu, dan jelas kupikir hal itu bukan karena dia benar-benar pernah ingin melakukannya. Alam bawah sadarku berkata, “Mana mungkin Tarlen yang hebat itu pernah berpikir untuk bunuh diri?.” Tetapi ternyata pikiranku salah.
Berangkat dari tulisan itu, aku kembali terbang ke masa silam ku. Masa yang selalu kusangkal. Titik terburuk dalam hidupku, yang bahkan hingga kini aku belum pernah benar-benar bangkit Persisnya januari 2007, Alvin jadian lagi sama perempuan seangkatanku. Dia cantik, menarik, supel dan seksi. Ya, seksi. Bandingkan dengan badan papan triplek dengan bahu bidang khas pria punyaku.
Aku sadar, hal itu sangat dangkal, emosional dan kekanak-kanakan. Peristiwa itu jelas bukan apa-apa dibanding Tarlen yang jatuh saat kehilangan ayahnya. Tapi perlu disadari pula setiap orang memiliki tingkat perasa dan titik sensitifitas yang berbeda. Tetapi, hasil dari peristiwa berkabut hitam itu, jika kita mau terus berusaha tetap sama, sebuah peredifinisan dan pemahaman kembali diri sendiri, berdamai dan menerima diri sendiri untuk pada akhirnya menghasilkan energi positif untuk melangkah kembali.
Saat aku merasa semua kebanggaan, harga diri, kebaikan, cinta dan kehangatan diri telah hilang, saat itulah aku menapaki jejak-jejak masa lalu. Bukan untuk sekedar romantisme, tapi lebih pada upaya pembelajaran diri.
Kini, aku mulai berani menghadapi (bukannya menyangkal) kenyataan sebenarnya dalam hidupku dan menganalisanya. Dan agar analisa ini bisa berjalan secara tuntas, mungkin ada baiknya memulai dari lingkungan keluarga dan masa-masa awal kehidupanku di dunia.
Aku adalah perempuan yang lahir dan tumbuh dari keluarga Jawa dengan norma Jawa Islam. Anak perempuan terakhir dari keluarga yang merantau ke Jakarta dengan jarak 9 tahun dengan kakak terdekat. Saat mataku berbinar membaca berkali-kali komik Candy-candy lantas meniru gambarnya, kakak perempuanku sedang rajin-rajinnya parkir di tiap tempat hiburan malam. Selain itu, orang tuakupun tampaknya kaget dengan anak yang tak terduga ini. Rupanya persediaan dana hanya sampai pada kakakku yang ketiga. Hasilnya mudah ditebak. aku jarang sekali liburan ke keluargaku di Jawa Timur, atau sekedar piknik hangat tiap akhir pekan seperti yang kakak-kakakku rasakan saat kecil. Serta-merta ‘pengeluaran-pengeluaran yang tak penting’ itu ditiadakan. Aku hanya bisa menatap iri foto kecil kakak-kakakku bersama badut Dufan atau foto mereka sambil mengendarai gajah. Aku bahkan baru bisa mengendarai sepeda saar usiaku menginjak 21 tahun!
Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya menerima kesepian sebagai teman dekatku. Mungkin saat aku harus berangkat ke TK sendirian berjalan kaki dengan jarak tempuh kurang lebih 1 KM (aku belum pernah benar-benar mengukurnya. Yah, kira-kira satu setengah kali perjalanan dari kosanku ke BIP). Lucunya, kenyataan ini baru kusadari saat aku jalan sama Ijul jam 5 pagi. Saat itu aku naik Jagur mau ke Lembang. Ketika itu hari pertama penerimaan anak baru, jadi anak SD yang baru menapakkan jejak di bangku SMP menjalani kaderisasi hari pertamanya.
“ Liat tuh, orang tua ngiringin pake mobil anaknya yang baru masuk kuliah, takut kenapa-kenapa. Lucu yah Mbak”
aku hanya bisa bilang “Hah?”, karena pemandangan ini asing bagiku. Kalaupun pemandangan ini pernah mampir dipelupuk mataku, pastilah luput dari perhatianku. Karena apa? Karena sejak kecil aku selalu berangkat sekolah sendiri, tidak ditemani. Aku ingat setiap malam hari pertama masuk sekolah aku akan sangat ketakutan karena aku sendirian. Takut sendirian, takut tidak memiliki teman. Aku memang iri dengan teman-temanku yang diantar jemput orang tuanya. Sedangkan aku? Kalaupun ada yang menjemput, itu pasti pembantu! Bedanya dengan sekarang, dulu aku selalu malu karena tidak ada yang mau mengantarku, karena serta-merta aku berpikir aku ngga cukup berharga untuk sekedar diantarjemput. Sekarang aku mampu melihat hal itu sebagai salah satu proses pendewasaanku.
Sejak kecil akupun selalu berusaha keras untuk memiliki teman main. Sialnya aku anak perantauan yang hiperaktif tapi selalu disuruh kalem sama orang rumah (karena perempuan Jawa harus anggun adanya….). hasilnya mudah ditebak, aku menjadi liar di luar sana. Ibu teman-temanku tidak menyukaiku karena aku lompat-lompatan diatas sofa mahalnya. Mereka hanya diam dengan muka masam tanpa kutahu sebabnya. Andaikan mereka mengatakan itu sekali saja, mungkin aku takkan terlalu terlambat untuk mengerti hal itu (hei…. Aku kan baru lima tahun saat itu?) Selain itu, seberapa keraspun aku berusaha diterima, aku tetap orang asing buat mereka. Karena mereka adalah sekumpulan keluarga besar betawi dan aku, bagaimanapun, hanya anak tetangga yang ikut nimbrung disana.
Saat kecil, aku selalu merasa sepi dan sendiri. Ayahku sibuk menjaga toko, dan kakak-kakakku sibuk menggeluti dunianya. Meskipun usaha ayahku untuk membangun keintiman denganku dapat kurasakan saat dia membayarku mencabuti rambut putihnya sambil mendongengkan kisah Jaka Tarub atau Bawang Putih Bawang Merah.
Sedangkan ibuku? Saat kukecil dia tampil sebagai sosok penyihir jahat yang selalu marah, memukul dan memaki. Kini, aku masih beranggapan bahwa aku tidak berhak mendapat setiap pukulan yang dia berikan. Aku adalah anak kecil yang belum tahu banyak, dan yang ibuku lakukan bukanlah mencoba membuatku mengerti, tetapi memaksaku bungkam dengan kekasarannya.
kesepian itu semakin lama semakin mampu kuatasi. Untungnya, pelan-pelan aku menemukan beberapa orang teman yang bisa kupercaya untuk melongok hatiku kedalam dan merasa nyaman karena mereka tetap ada. Meskipun kuakui aku saat ini masih berada dalam wilayah gelap, pelan-pelan aku menemukan apa yang kuperlukan untuk mencintai dan menghargai diriku.
Kini aku sadar, ketergantunganku yang besar pada Alvin didorong karena kebutuhanku akan sosok figur lelaki dalam hidupku. Aku sayang ayah dan kakakku, tetapi tidak tercipta keintiman diantara kami. Ayahku sibuk mencari uang sedangkan kakakku sibuk dengan fase pubertasnya. Kini aku sadar, Alvin dan Ijul merupakan blue print dari ketiga lelaki pertama dalam hidupku (ayah dan dua kakakku). Kepintaran, kerja keras, kegagahan, kelelakian, emosional bahkan kekasaran sekaligus kelembutan mereka tak lain merupakan manifestasi dari lelaki dalam keluargaku.
Setahap demi setahap aku melihat kejatuhanku sekarang ini adalah hukum alam yang Tuhan ciptakan agar aku melihat kembali masa laluku, membedahnya, meredefinisikannya, lantas memahami dan menerimanya, bukannya terus-menerus menyangkal dan menutup mata. Karena kalau tanpa Alvin, aku takkan sadar permasalahan-permasalahan dalam hidupku, baik yang kecil nyebelin (karena tidak langsung berusaha diselesaikan) lantas menggunung sampai yang cukup rumit untuk diutarakan.
Peristiwa Januari 2006 lalu bukanlah penyebab kenapa aku sejatuh ini, tetapi hanya sebagai trigger. Hanya menjadi sebuah alasan mengapa pada akhirnya aku berani untuk mengambil ruas jalan yang lain untuk tujuan yang semoga mengantarkan pada titik kebaikan yang sama. (Sekarang kamu tahu kan Vin, kenapa aku ingin sekali kamu kembali lagi dalam hidupku? Karena kamu mengajarkan banyak, terlalu banyak dari yang mampu kutuliskan. Bahkan jauh dari yang bisa kamu bayangkan. Tapi kini, benar-benar sebagai seorang teman baik… percayalah.)
Sebenarnya esensinya kurang lebih sama. Tarlen jatuh karena kehilangan pegangannya, sedangkan aku tidak pernah benar-benar memiliki pegangan, bahkan diriku sendiri tidak dapat kuandalkan. Aku selalu bergerak mencari pegangan, mencari role model yang selalu bisa kuandalkan, berusaha menemukan figure lelaki yang bisa membuatku merasa nyaman dan aman dan membuatku percaya, AKU PANTAS DISAYANG setelah beribu penolakan dan jatuh bangun yang kurasakan.
Busro pernah bilang bahwa saat paling menyedihkan bukanlah saat kita jatuh dan sendiri, tapi saat kita senang dan tidak ada seorangpun ada disamping kita untuk benar-benar merayakan. Dan aku sering mengalaminya. Karena apa? Karena aku terlalu takut untuk membuka diriku kepada orang lain, lantas mereka dengan mudahnya mencuri hatiku yang kini kurang dari separuh. Tampak lebih mudah menerima kesepian sebagai satu-satunya sahabatku. Namun serta-merta kesepian itupun mencuri seluruh kehangatanku, kepercayaan diriku, bahkan diriku yang sebenarnya.
Aku jadi teringat film Prozac nation yang cemerlang dibawakan oleh Christina Ricci. Film itu berkisah tentang seorang penulis yang juga memiliki latar belakang sama denganku tapi lebih ekstrim. Orang tuanya bercerai dan dia harus tinggal bersama ibunya yang depresi. Segala harapan yang tidak pernah berhasil diwujudkan ibunya dalam hidup tertumpah pada anak satu-satunya. Kini aku baru sadar, mengapa aku benar-benar menyukai film sakit itu (awalnya karena kupikir aku juga sama ‘sakit’ dengannya). Karena kita berdua sama-sama mencari figur lelaki dan saat beranjak dewasa berharap dapat menemukan itu dalam hubungan romantisme kita.
Kini, perlahan-lahan aku percaya bahwa aku pantas disayang. Tapi sebelumnya, sebelum aku menerima kasih sayang, aku harus belajar banyak untuk menyayangi diriku sendiri. Belajar untuk terbuka, baik dengan diriku maupun orang lain.
Dan dalam perjalananku, aku sangat berterima kasih dengan role model yang datang dan pergi untuk memberikan pelajaran yang kuperlukan untuk memahami diriku lebih baik lagi. Untungnya meskipun pikiran untuk bunuh diri juga pernah datang dalam diriku, aku masih memberikan kesempatan pada diriku untuk melanjutkan langkah meski patah-patah.
Semoga suatu hari aku akan mendapatkan giliranku untuk membalik energi negatifku menjadi sebaliknya. Amin
Nur Aini
Draft 17 Maret 2007
02:14