Aksaraini's

Blog EntryMonolog Bisu ( A Short Story)Jan 25, '07 8:42 AM
for everyone

Waktu memang mampu mengubah segala sesuatu. Termasuk kamu. Yah, kamu yang dulu kerap bersinar sehangat mentari, bahkan kata-katamupun mewangi. Bagai embun pagi, kamu selalu mengantarkan rasa dingin yang lembut merasuk kedalam paru-paru, lantas menyentuh kalbu yang kekeringan. Belum lagi dua butir permata yang tertanam di dalam indahnya matamu, kerap membutakan hati siapapun yang melihat ke dalam. Tapi itu dulu. Sekarang kamu teronggok didepanku setelah beberapa kali mengeluarkan isi perut, karena meneguk minuman pahit yang bahkan tidak kau suka. Aku tahu kamu terluka, meski kau coba menyembunyikannya dengan membubuhkan pewarna sintetis di semestamu yang kini kedap warna. Luka yang sangat jelas mengabuti hitam semestamu pekat. Sekarang yang ada hanya kelam, padahal bukan malam.


Sebelum kamu teronggok lemas dan bisu suara, kamu terlalu banyak bicara. Perkataan yang tidak akan menyakiti siapapun, kecuali dirimu sendiri. Saat kamu bilang kamu membenciku, aku memang sedih dan kecewa. Tetapi aku jauh lebih kecewa saat mendengarmu ingin menjemput mati. Mana mungkin gadis yang dulunya selalu bersemangat menaklukan dunia kini patah hanya karena luka cinta. Namun, sepersekian detik selanjutnya akupun tersadar bahwa aku telah menghilangkan hakku untuk merasa kecewa denganmu saat aku memutuskan untuk meninggalkan semestamu, tidak lagi mendampingimu.


Aku tahu, didalam hatimu yang kini biru-biru, kau masih mengharapkan aku datang dan membawa penawar sakit yang kini meraja. Namun tembok berduri yang kekar megah disekeliling hatimu tidak juga kau runtuhkan. Lalu dengan cara apa aku dapat kembali masuk menemani hatimu yang kesepian tanpa harus ikut mati kesakitan? Sedang kamu bagaikan bom waktu berjalan yang siap menghancurkan apa saja, termasuk dirimu sendiri.


Aku tahu, kamu pasti kecewa padaku karena aku menepi saat melihat semestamu yang porak poranda. Semesta yang kini dilukis dengan tinta hitam yang tak berujung pangkal dengan semburat merah darah menggantung di langit yang kelelahan. Sebentuk semesta yang mentarinya adalah cinta, namun kini hilang entah kemana.


Mungkin harusnya aku menuntun semestamu yang pincang lantas menemanimu mencari mentari yang hilang itu. Atau menghadiahkanmu sebongkah mentari kecil yang akan tumbuh besar seiring bergulirnya waktu. Tetapi kamu sungguh petualang sejati. Kamu tentu takkan mau terlihat lemah dengan satu tangan bergantung di pundakku. Kamupun pasti tak butuh mentari hadiah yang terlalu mudah kau peroleh. Lantas, apakah aku salah membiarkanmu menata kembali seluruh semestamu sendiri?


Dan di ujung lazuardi itu, kamu melihat jelas gerak semestaku yang memesat. Tetapi seluruh tenagaku memang untuk membangun menara pencakar langit. Toh kamu tahu bahwa aku selalu ingin mengalahkan langit sombong itu, menggapainya dalam genggamanku lantas menggantung tinggi melebihi langit lapis ke tujuh. Tempat terjauh yang mungkin pernah diraih manusia.


Kamu melihat mentariku penuh rasa dengki, kadang sambil sedikit meringis iri. Padahal mentarikupun tidak pernah kau sukai. Tetapi tetap saja kamu benci karena aku memiliki mentari yang selalu siap menyinari. Kamu kerap bertanya bagaimana mungkin aku bisa memiliki mentari yang begitu setia sedang dirimu hanya memberi kesetiaan yang ternyata sia-sia.


Namun saat aku berkata bahwa resepnya hanya hati yang terbuka, kamu bahkan langsung menutup mata. Padahal jika kamu sedia membuka mata sedikit saja, kamu akan mendapati banyak mentari yang mau berbagi. Memang bukan mentari yang telah meninggalkanmu pergi, karena kita sama-sama tahu dia tidak akan kembali. Yah, anggap saja mati.


Mentari-mentari ini berbeda dengan mentari yang dulu mengelilingi, karena toh kita tahu tidak ada yang sama pasti. Tetapi bukan berarti mentari-mentari itu tidak bisa membawa warna yang kaukehendaki. Bahkan mungkin mentari-mentari tersebut mampu membuatmu melihat warna yang belum pernah kautemui. Atau bisa juga menawarkan arti lain dari malam. Bukan hanya sekedar kelam (Andai saja kamu mau memberi kesempatan pada hatimu untuk mencinta lagi. Mungkin luka itu tidak akan terlalu perih untuk kautanggung sendiri).


Kini hanya untaian doa terlantun yang mampu kuberikan untuk mengiringimu mencari mentari

sejati. Karena kamu telah memilih jalan setapak yang sepi dan terjal untuk kaudaki.


Semoga keselamatan selalu menyertai dan kamu mendapatkan apa yang kau cari.




Nur Aini,

8 April 2006


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.