Waktu
memang mampu mengubah segala sesuatu. Termasuk kamu. Yah, kamu yang
dulu kerap bersinar sehangat mentari, bahkan kata-katamupun mewangi.
Bagai embun pagi, kamu selalu mengantarkan rasa dingin yang lembut
merasuk kedalam paru-paru, lantas menyentuh kalbu yang kekeringan.
Belum lagi dua butir permata yang tertanam di dalam indahnya matamu,
kerap membutakan hati siapapun yang melihat ke dalam. Tapi itu dulu.
Sekarang kamu teronggok didepanku setelah beberapa kali mengeluarkan
isi perut, karena meneguk minuman pahit yang bahkan tidak kau suka.
Aku tahu kamu terluka, meski kau coba menyembunyikannya dengan
membubuhkan pewarna sintetis di semestamu yang kini kedap warna.
Luka yang sangat jelas mengabuti hitam semestamu pekat. Sekarang yang
ada hanya kelam, padahal bukan malam.
Sebelum
kamu teronggok lemas dan bisu suara, kamu terlalu banyak bicara.
Perkataan yang tidak akan menyakiti siapapun, kecuali dirimu sendiri.
Saat kamu bilang kamu membenciku, aku memang sedih dan kecewa. Tetapi
aku jauh lebih kecewa saat mendengarmu ingin menjemput mati. Mana
mungkin gadis yang dulunya selalu bersemangat menaklukan dunia kini
patah hanya karena luka cinta. Namun, sepersekian detik selanjutnya
akupun tersadar bahwa aku telah menghilangkan hakku untuk merasa
kecewa denganmu saat aku memutuskan untuk meninggalkan semestamu,
tidak lagi mendampingimu.
Aku
tahu, didalam hatimu yang kini biru-biru, kau masih mengharapkan aku
datang dan membawa penawar sakit yang kini meraja. Namun tembok
berduri yang kekar megah disekeliling hatimu tidak juga kau
runtuhkan. Lalu dengan cara apa aku dapat kembali masuk menemani
hatimu yang kesepian tanpa harus ikut mati kesakitan? Sedang kamu
bagaikan bom waktu berjalan yang siap menghancurkan apa saja,
termasuk dirimu sendiri.
Aku
tahu, kamu pasti kecewa padaku karena aku menepi saat melihat
semestamu yang porak poranda. Semesta yang kini dilukis dengan tinta
hitam yang tak berujung pangkal dengan semburat merah darah
menggantung di langit yang kelelahan. Sebentuk semesta yang
mentarinya adalah cinta, namun kini hilang entah kemana.
Mungkin
harusnya aku menuntun semestamu yang pincang lantas menemanimu
mencari mentari yang hilang itu. Atau menghadiahkanmu sebongkah
mentari kecil yang akan tumbuh besar seiring bergulirnya waktu.
Tetapi kamu sungguh petualang sejati. Kamu tentu takkan mau terlihat
lemah dengan satu tangan bergantung di pundakku. Kamupun pasti tak
butuh mentari hadiah yang terlalu mudah kau peroleh. Lantas, apakah
aku salah membiarkanmu menata kembali seluruh semestamu sendiri?
Dan
di ujung lazuardi itu, kamu melihat jelas gerak semestaku yang
memesat. Tetapi seluruh tenagaku memang untuk membangun menara
pencakar langit. Toh kamu tahu bahwa aku selalu ingin mengalahkan
langit sombong itu, menggapainya dalam genggamanku lantas menggantung
tinggi melebihi langit lapis ke tujuh. Tempat terjauh yang mungkin
pernah diraih manusia.
Kamu
melihat mentariku penuh rasa dengki, kadang sambil sedikit meringis
iri. Padahal mentarikupun tidak pernah kau sukai. Tetapi tetap saja
kamu benci karena aku memiliki mentari yang selalu siap menyinari.
Kamu kerap bertanya bagaimana mungkin aku bisa memiliki mentari yang
begitu setia sedang dirimu hanya memberi kesetiaan yang ternyata
sia-sia.
Namun
saat aku berkata bahwa resepnya hanya hati yang terbuka, kamu bahkan
langsung menutup mata. Padahal jika kamu sedia membuka mata sedikit
saja, kamu akan mendapati banyak mentari yang mau berbagi. Memang
bukan mentari yang telah meninggalkanmu pergi, karena kita sama-sama
tahu dia tidak akan kembali. Yah, anggap saja mati.
Mentari-mentari
ini berbeda dengan mentari yang dulu mengelilingi, karena toh kita
tahu tidak ada yang sama pasti. Tetapi bukan berarti mentari-mentari
itu tidak bisa membawa warna yang kaukehendaki. Bahkan mungkin
mentari-mentari tersebut mampu membuatmu melihat warna yang belum
pernah kautemui. Atau bisa juga menawarkan arti lain dari malam.
Bukan hanya sekedar kelam (Andai saja kamu mau memberi kesempatan
pada hatimu untuk mencinta lagi. Mungkin luka itu tidak akan terlalu
perih untuk kautanggung sendiri).
Kini
hanya untaian doa terlantun yang mampu kuberikan untuk mengiringimu
mencari mentari
sejati.
Karena kamu telah memilih jalan setapak yang sepi dan terjal untuk
kaudaki.
Semoga
keselamatan selalu menyertai dan kamu mendapatkan apa yang kau cari.
Nur
Aini,
8
April 2006