Mas Sadra,anaknya Ajeng sekarang sedang sakit TBC. di rawat di RS Hermina lt. 3 kamar 354. no.telp 0813.9532.9386 Buat yang punya pulsa lebih, kalo mau bisa nyemangatin Gemajeng di nomor itu, atau kalau ada yang punya waktu senggang bisa dateng ke Hermina langsung.
Selain itu mohon doanya biar cepet sembuh yah.
Jelas tidak sema dapat dituliskan, namun saya berusaha mengingat-ingat oarng orang yang berjasa memanusiawikan seorang Nur Aini 1. Ibunda Sunaiyah. I love you, Mom 2. Ayahanda M. Salim, sesosok ayah yang ‘sempurna’. terimakasih 3. Kakaku pertama saya, Ahmad Sulthoni. Seorang family man yang pekerja keras. 4. Kakak kedua saya, Imron Rosadi. Seseorang yang dalam keadaan apapun kerap berusaha jujur dan berdoa 5. Nur Wachid. Keponakan yang saya yakin suatu hari nanti akan menjadi seseorang yang hebat! 6. Mbah Putri Maryam. Nenekku yang memutuskan untuk bercerai daripada di madu. Hebat, di masa itu sudah berani mengambil keputusan untuk keluar dari zona nyaman. 7. Kakek buyut Khasan Ahmad beserta seluruh kisah tauladan tentangnya. 8. Bu Nur Huda. Madame di les Bahasa Prancis CCF yang ketika saya di kelas Bahasa juga menjadi guru di SMU. 9. bu Dewi, guru Bahasa Indonesia kelas 2 dan 3 SMU yang mengajarkan indahnya bertutur aksara. Saya ingat ketika ibu mengajarkan musikalisasi puisi dalam kelas kami, mengundang sastrawan cilk berbakat bernama Ninus yazng menhadirkan decak kagum, atau menyemangati kami untuk mengirimkan literasi kami untuk diapresiasi ke situs www.cybersastra.net 10. Guru ngaji di MI Al-Hikmah. Perempuan muda yang saya lupa namanya namun berbekas di hati saya karena kebersahajaan dan kehangatannya. 11. Bu Emma Nidzar, guru SMU sekaligus istri dari kakak keduaku. Perempuan yang selalu berusaha menegakkan amanat yang termaktub dalam quran dan hadits dalam tiap sendi kehidupannya. 12. Bu Yannadiah Kusumawati. Seorang perempuan, ibu rumah tangga, seniman, pendidik, pebisnis yang sangat tulus dan berdedikasi. 13. Bu Ira Adriati Winarno, one of the super mom that i’ve ever met. 14. Bu Irma Damajanti. Baru pertama kali saya bertemu dengan perempuan setegas, sediplomatis dan seobjektif dia. 15. Mas Agus. Para sahabat SMP (fase pengenalan) 16. Aztia 17. Desi 18. Dilla 19. Wati Para sahabat SMU (fase pencarian jati diri) 20. Ulrich Barbara Saehu, sahabat yang mengajariku indahnya kualitas pertemanan, bukan kuantitas pertemuan. 21. Anita, 22. Dita 23. Septi Komala 24. Gita Bayuratri. Seseorang yang kerap mengajariku indahnya kerja keras dan kerja cerdas Teman yang bersinggungan di lapangan 25. Dolly, ‘adik’ yang selalu berhasil mengingatkanku untuk tetap memiliki hati yang tulus dan niat yang baik dalam menjalani hidup. 26. Fakhrizal, orang hebat yang selalu dapat diandalkan. Semoga saya juga bisa kamu andalkan J 27. Tim Ganesha I tentunya! 28. Hari 29. Ical 30. Sawung 31. Achie 32. Imoth 33. Agni Solachuddin Zulfikar. Sebuah sensasi yang mendidik buat saya 34. Panji Sisdianto 35. Pauh 36. Ajee Kurniawan Azhari (yang sedang menuju fase kehidupan selanjutnya. Semoga Sakinah Mawaddah, warrahmah. Amin! J) 37. Jodi Teman di fase perguruan tinggi 38. Alvindra Adhikresna. Seseorang yan telah mengajari saya banyak hal 39. Ajeng, sahabat tersayang yang sangat sabar mendampingi tumbuh kembangku sebagai seorang manusia. 40. Mas sadra, lelaki kecil yang mengajarkan manisnya peran ibu suatu hari nanti 41. Maio, si little Nur Aini yang kerap menyemangatiku untuk mempertanggungjawabkan ‘beban’ kehormatan namaku yang menempel di barisan namanya 42. Fiihaa 43. Gina 44. Puri 45. Winta 46. Atis 47. Khalimo 48. Tommy 49. Dede 50. Hilda 51. Gema 52. Asti 53. Nur Maliyanti 54. Busra Komunitas 55. Nia 56. Tarlen 57. Mba ‘Dan 58. Dodi 59. Agni Yoga Airlangga, seorang partner diskusi yang mumpuni. 60. Puti
Hari peringatan pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei kali ini mengajak saya berkontemplasi perihal makna pendidikan dan peran serta pendidik lantas seberapa besar perubahan yang telah mereka lakukan, baik dalam kehidupan saya secara khusus maupun dalam pengembangan mental masyarakat Indonesia secara umum. Saya tidak akan mengangkat sisi gelap pendidikan Indonesia seperti tawuran pelajar sebagai ‘cara’ baru untuk memaknai hari pendidikan nasional. Saya juga tidak akan berbicara mahalnya harga sebuah ilmu pengetahuan yang katanya merupakan hak asasi manusia. Karena apa? Karena ketika kita terlalu memberikan perhatian pada sisi gelap dalam melihat sesuatu, kita akan lupa memaknai nikmat yang kita miliki. Meskipun saya sadar, ketidakpuasan merupakan awal dari sebuah pembaharuan, seperti yang dilakukan oleh Puti, Kandi, Agni, Dodi, Jodi dkk. Kembali ke ranah pendidik, karena hari ini saya berusaha mengkontemplasikan nikmat pendidik hebat yang pernah dan sedang bersinggungan dalam kehidupan saya. Definisi pendidik yang saya maksudkan di sini bukan hanya para pengajar yang terikat dalam sebuah institusi, baik formal maupun informal, namun lebih jauh adalah mereka yang memberikan pembelajaran hidup sehingga semakin memanusiakan seorang Nur Aini. Mereka yang dengan caranya masing-masing menyentuh hati dan pikiran saya lantas menjadi bagian dari proses pengembangan diri. Memanfaatkan kesempatan ini, saya mengirimkan beberapa pesan elektronik guru-guru kehidupan. Bunyinya seperti ini “ Ass, selamat hari Pendidikan Nasional. Terima Kasih telah mendidik hati dan pikiran J”. Pesan itupun mendapatkan respon positif dari beberapa orang hebat dalam hidup saya. Hal yang saya syukuri dari keputusan saya hari ini adalah bahwa saya telah menggunakan momentum tersebut untuk memberikan sebuah penghormatan khidmat, meskipun hanya sebatas barisan kata di layar maya. Semoga suatu hari nanti penghormatan yang bisa saya berikan dapat lebih nyata seperti membanggakan mereka dan semoga mereka dan saya tidak pernah berhenti menjadi pendidik bagi diri sendiri dan orang lain. Terima Kasih untuk semua guru kehidupan yang telah menjadi agen perubahan. Hidup pendidikan Indonesia! J Jakarta, 2 Mei 2008 Nur Aini
| What Your Hands Say About You | You are logical, analytical, and rational. You have good verbal skills.
Bold and daring, you're not afraid to change your life if you think it needs an overhaul.
Practical and down to earth, you're a doer not a dreamer. You rather get something done than think about it all day.
Your emotions tend to be nervous and potent. Your energy - both positive and negative - deeply impacts your life. |
Sabtu siang ini aku menonton Oprah Winfrey Show. Kali ini talk show America tersebut membahas tentang seorang perempuan yang membunuh anaknya sendiri. Tidak disebutkan jenis kelamin anak yang meninggal tragis sesaat setelah memecah tangis pertama di muka bumi ini. Perempuan berumur 15 tahun itu, sebut saja namanya Alice, hamil karena hubungan pranikah dengan kekasihnya, Tom. Setelah mengetahui kehamilannya, mereka sepakat untuk melahirkan anak tersebut yang selanjutnya akan dibuang. Berbagai cara dilakukan untuk menutupi kehamilan tersebut. Mulai dari mengurangi porsi makan (hal ini mudah baginya karena sebelum hamilpun dia mengidap anoreksia dan bulimia), semakin sering olah raga berat, hingga tiduran terlentang dengan Tom berdiri di atas perutnya! Praktis bayi tersebut lahir dengan kondisi cacat! Ironisnya, bayi yang rencananya akan dibuang itu langsung ditikam Alice dan mati seketika setelah Alice menyadari anak tersebut memiliki cacat pada bagian wajah. Saat Tom datang, bayi mereka dimasukkan ke dalam tas lantas dibuanglah bayi tersebut ke parit daerah setempat. Peristiwa ini baru terungkap 6 bulan kemudian sesaat setelah Alice mengaku pada pacar barunya, Max ketika Max melamarnya. Pengakuan tersebut terdengar oleh salah satu warga yang kemudian melaporkan berita tersebut pada polisi. Saat aku mendengar tuturan kisah ini, ingatanku melayang pada seorang ‘adik kesayanganku’, seorang perempuan yang juga mengalami kejadian hamil di luar nikah. Peristiwa saat dia menangis didepanku lantas menceritakan hal tersebut pertama kali kembali nyata dalam ingatan. Saat kami akhirnya menangis bersama dan sedikit banyak melalui hal tersebut bersama. Entah mengapa saat itu aku memaklumi tindakannya, bahkan serta-merta aku semakin menyayangi dan ingin menjaganya. Karena apa? Karena aku yakin dia adalah perempuan baik yang pada suatu titik menjejakkan langkah yang tidak tepat. Apakah sebuah kesalahan tersebut menjadikan dia total sebagai seorang yang buruk? Menurut aku tidak. Karena manusiawi seorang insan manusia khilaf, tetapi atas izin dan ridhoNyalah manusia menyadari kesalahan tersebut kemudian memohon ampun pada Tuhan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Toh kesalahan juga tidak pernah mutlak berada dalam satu pihak. Pasangan, lingkungan dan cara didik orang tua jelas mengambil peranan yang juga penting. Aku memahami upaya dia mencari sosok figur ayah di luar keluarga dan saat beranjak dewasa berusaha menemukan figur tersebut dalam kehidupan romantismenya, karena akupun mengalami proses yang kurang lebih sama. Pemberontakan dan kemarahannya jelas merupakan manifestasi kekecewaan yang akut pada masa kecilnya. Lagipula, get real? Bukan dia saja kan yang melakukan hubungan pranikah? Apakah yang melakukan hubungan pranikah tetapi tidak hamil namun hingga kini tidak merasa menyesal atau sekedar bersalah (lantas menganggap diri lebih baik dengan perempuan yang ‘sialnya’ terlalu subur untuk menampung sperma) lebih baik dibandingkan dengan orang yang melakukan hubungan pranikah lantas hamil namun sangat menyesali perbuatanNya dan pada akhirnya mencoba menemukan kembali jalan mendekat padaNya? Hamil atau tidak kan hanya tergantung hoki, atau kalau dalam agamaku lebih dikenal dengan sebutan takdir. Masih menurutku, Tuhan dengan segala sifat-sifatNya menyayangi kita dengan sangat luar biasa yang tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata sehingga seberapa besarpun dosa kita, asal kita menyesal dan tidak mengulangi hal tersebut kemudian berusaha mencari jalan untuk mendekatkan diri kembali Tuhan, maka Tuhan akan memaafkan kita. Bukankah beberapa sifat Tuhan adalah Maha Pengasih, Penyayang, Pemaaf dan Maha Tahu Segalanya (dan kita yang manusia malah bersikap sok tahu yang pada akhirnya merasa berhak untuk menjustifikasi sesama manusia?). Dan lain halnya dengan manusia, pintuNyalah yang selalu terbuka saat seluruh pintu berlapis baja. Sekarang aku melihat ‘adik kesayanganku’ tumbuh menjadi perempuan yang kuat, sangat keibuan namun di sisi lain tetap rock and roll! Aku bangga dengan pencapaian-pencapaian yang telah dia lakukan lantas bertransformasi menjadi sesosok perempuan yang sangat hebat meskipun aku tetap tidak menutup mata bahwa dia masihlah seorang perempuan belia dengan segala kekurangan dan kealpaannya (seperti halnya aku). Andaikan Alice memberikan kesempatan hidup bagi anaknya, aku yakin dia akan mengalami suatu titik dimana dia bersyukur sekali memberi ‘nafas’ pada seorang bayi mungil yang tumbuh semakin lama semakin mempesona, lucu, pintar dan tampan dari rahimnya. Seperti halnya kata ‘adik kesayanganku’, “semua rasa sakit, marah, lelah, air mata dan kecewa ini terbayar saat melihat anak yang aktif, sehat, tampan dan lucu menatapku dengan binar mata penuh kasih sayang. Atau saat dia memergokiku mencoba rokok saat terlalu penat lantas berkata, ‘bubu, jangan ngeroko, nanti bubu sakit. Mas kan sayang sama Bubu..” Banyak manusia hebat yang kutemui di dunia ini. Ada yang dengan keuletannya mampu menghidupi seluruh keluarganya pada usia 20 tahun (itu kamu, Ke), ada yang mencapai turning pointnya setelah jatuh bangun dalam kehidupannya dan sekarang menjadi orang kepercayaan PBB meneliti Hak Perempuan di mata hukum Indonesia (itu Ka Tarlen) atau bapak ibu bersahaja yang kutemui di Pasar induk Ciroyom tengah malam yang menjajakan dagangannya dengan senyum tulus dan jiwa sederhana ketika hampir seluruh orang berselimut di atas kasur, entah tidur atau meratapi kesepiannya. Dan kamu adalah salah seorang orang hebat yang kutemui, yang berani mengambil tanggung jawab besar diusia yang sangat belia. Lebih jauh, kamu mampu menjadi a gorgeous mother and a great wife for your family. Untuk ‘adik kesayanganku’, selamat karena pada akhirnya kamu telah melewati salah satu cobaan terbesar dalam hidupmu dan melaluinya dengan sangat baik. Kamu ingat kan setiap orang besar pernah melakukan satu kesalahan terbesar dalam hidupnya? Toh lagipula hanya emas yang di uji. Iya kan say? Terakhir untuk seluruh perempuan yang hamil di luar nikah atau yang telah melakukan kesalahan besar atau kecil, percayalah bahwa segala sesuatu terjadi dengan alasan dan tujuannya sendiri. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi! Cigadung, Nur Aini Revisi, 13 Mei 2007
Beberapa bulan lalu sempat santer berita seorang
ulama kondang Indonesia yang sebelumnya selalu menyisipkan pesan “sebaiknya
tidak poligami” dalam tiap dakwahnya malah mengambil janda kembang sebagai
isteri keduanya. Praktis AA Gym yang meroket karena kelihaiannya menyentuh hati
perempuan, baik tua maupun belia berada dalam posisi yang tidak menyenangkan.
Semua orang merasa berhak menjustifikasi, lantas marah dan melenggang pergi.
Mendadak ‘emoh’ menyempatkan diri melangkahkan kaki ke Daarut Tauhid atau
sekedar menyalakan TV untuk mendengar ceramah-ceramahnya yang sejujurnya sangat
menyejukkan hati.
Sebenarnya apakah salah berpoligami? Jawabannya jelas
tergantung dari sudt pandang. Jika berlandaskan ajaran Islam yang diperkuat
dengan ayat Al-Quran mungkin dapat dibenarkan. Tapi seberapa bijak manusia
menafsirkan Al-Quran? Toh tinta sejarah telah mencatat penyalahgunaan agama
untuk kepentingan-kepentingan yang sangat tidak bijaksana. Lagipula tafsiran
Qur An selama ini tampaknya sering amnesia bahwa Islam itu agam universal,
bukan sekedar agama untuk bangsa Mekkah, mesir atau Negara-negara di belahan
Timur Tengah sana. Contohnya saat temanku yang beragama Katholik dengan ayah
islam dan Ibu katholik mengalami penganiayaan dari orang muslim secara verbal.
Saat itu dia sedang bermain dengan temannya, lantas ibunya menarik anaknya
seraya berkata, “jangan bermain dengan orang kafir!”. Temanku yang saat itu
masih kecil lantas memberi penilaian buruk pada agama yang dipercaya ibunya.
Ditambah dengan khutbah masjid disekitar rumahnya yang mendiskreditkan non
muslim, tidak heran di dunia internasional islam dilihat sebagai agama teroris.
Padahal islam jelas mencintai kedamaian (ingat saat pertama kali Wali Songo
masuk ke Nusantara? Mereka membenahi perekonomian terlebih dahulu sebelum
akhirnya berdakwah di Bumi Nusantara).
Kembali ke poligami yang bisa benar atau salah
tergantung kacamata yang digunakan. Jika menggunakan kacamata kemanusiaan yang
selanjutnya menempatkan perempuan sebagai manusia yang memiliki hati, jiwa,
pikiran, perasaan, cinta dan sakit hati, poligami menjadi tidak bijaksana. Toh
jika keadaan dibalikkan apakah seorang pria sanggup menghadapi poliandri?
Karena jika dilihat dari kacamata kemampuan seksual, perempuan dianugrahi
kemampuan untuk merasakan multiorgasme, tidak seperti kebanyakan lelaki yang
menyerah pada akhir ronde pertama. Karena egolah, sampai kiamatpun lelaki tidak
akan pernah menyetujui poliandri namun bersorak sorai mengusung hak poligami.
Memang kondisi poliandri dekat dengan suudzon dan
fitnah sehingga tidak diterima secara meluas. Namun legitimasi hak poligami
atas dasar :
- perempuan lebih
banyak disbanding lelaki
- insting dasar lelaki
memiliki lebih dari satu istri
jelas kekanak-kanakan, egois dan tidak manusiawi. Kalaupun
ada syarat untuk pada akhirnya seorang suami layak berpoligamiyang beberapa
diantaranya adalah mampu dan adil, standar tersebut sangatlah subjektif. Mampu
itu apa? Memiliki rumah sendiri? Sanggup menyekolahkan anak? Setinggi apa?
Menafkahi isterinya? Seperti apa dan sebesar apa? Lahir bathinkah? Atau sekedar
lahir saja? Toh jika keadaannya sudah begini para lelaki itu mendadak ingat
untuk hidup sederhana asal sesuai aturan agama padahal sebelumnya rakus luar
biasa.
Dan perihal adil. Dalam salah satu ayat Al-Quran
mengungkapkan bahwa manusia tidak pernah bias berbuat adil. Karena sifat dasar
manusia itu adalah cenderung pada sesuatu hal, apalagi jika sudah menyangkut
hati dan pikiran. It’s hard to love and be wise, right?
Kembali ke AA Gym dan the Ninih. Teteh bisa saja
bilang ke publik dia ikhlas dan rela, meski tetap tak bisa menyembunyikan jejak
airmata di cekung pipinya, karena salah satu syarat utama lelaki boleh
berpoligami setelah mendapat izin dari isterinya. Tapi ikhlas seperti apa?
Bukannya saya meragukan keikhlasan dan keparipurnaan hatinya untuk menerima salah satu cobaan
terberat untuk perempuan ini, tetapi jujur dalam hati saya masih memiliki
sejuta pertanyaan yang belum menemui jawaban logis dan memuaskan.
Mungkin syarat-syarat untuk pada akhirnya seorang
lelaki bisa berpoligami tampak pada cerita Mahabrata. Sembodro yang memiliki lima suami mungkin merupakan representasi sifat-sifat
yang harus ada pada lelaki untuk memimpin dunia akhirat. Lantas mengapa
dibutuhkan lima tubuh lelaki untuk seorang perempuan seperti
Sembodro? Dan mengapa seorang perempuan bisa menjadi isteri yang baik untuk lima orang lelaki dengan karakter-karakter kuat yang
sangat berbeda satu sama lain? Mungkin hal tersebut menyiratkan tahap-tahap
yang harus dilalui lelaki sebelum akhirnya memiliki lebih dari satu isteri.
Bahwa seseorang yang memiliki sifat seperti Yudhistira, Ardjuna, Bima, Nakula
dan Sadewalah yang baru sempuna dirinya sebagai suami dan selanjutnya berhak
mengambil isteri kedua dengan izin tentu saja. Tapi tetap saja, Raja-raja Jawa
zaman dulu terkenal dnegan selirnya yang luar biasa banyaknya bukan? (tell me
about that!)
Oke, oke, kembali ke The Ninih. Kenyataannya dia
adalah perempuan paruh baya yang telah 7 kali melahirkan dengan pekerjaan yang
dia peroleh dari kesuksesan suaminya di media dakwah Islam. Jika dia memutuskan
untuk bercerai dan ketukan palu hakim memutuskan anak-anaknya ikut The Ninih,
dengan apa dia menghidupi anak-anaknya? Bukannya melangkahi rizki, rahmat dan
ketentuan Tuhan, tapi ibu mana yang tega melihat anaknya berjalan
terpatah-patah menyongsong hati depannya, jika ada jalan untuk melaju pesat
meski hatinya sebagai perempuan tersayat? Pilihan kedua semua anak ikut suami
juga tidak mudah. Mana ada seorang ibu yang sanggup berpisah dengan
anak-anaknya? Pil pahit kehidupan itupun ditelannya bulat-bulat dengan penuh
sabar dan ikhlas.
Saya tidak menyalahkan atau memojokkan pilihan the
Ninih. Itu pilihan yang sangat bijaksana, sejujurnya. Sayapun tidak tahu harus
melakukan apa bila diposisinya. Terjebak, dalam kamus saya. Saya hanya
menyayangkan the Ninih lupa bahwa dirinya adalah public figur. Serta-merta
muncul paradigma di masyarakat bahwa perempuan belum paripurna jika tidak
seikhlas dia (padahal semua orang berbeda dan dengan cara mereka sendiri pada
akhirnya menjadi manusia yang hebat). Hal ini mengingat minimnya daya
pembelajaran masyarakat Indonesia sekarang ini yang masih rendah sehingga belum bijak
menganalisa masalah. Lebih jauh keadaan mental seperti itu makin memperkuat
budaya kultus individu pada figure pemimpin-pemimpinnya.
Sekali lagi saya tidak ingin menjustifikasi disini,
atau sekedar ‘reseh’ mengurusi rumah tangga orang. Tapi karena ini menyangkut
perkembangan Indonesia, maka saya merasa wajib unjuk bicara meski sebatas
blog pribadi. Saya sadar saya, the Ninih, AA Gym dan semuanya adalah manusia
yang sempurna karena kelebihan dan kekurangannya. Saya di sini hanya berusaha
menempatkan sesuatu pada tempatnya. Inipun dengan subjektifitas yang akut
(meski berusaha keras objektif) dan minimnya pengetahuan pada banyak hal.
Seyogyanya dengan kesadaran itulah, budaya kutus
individu ditempatkan sesuai porsinya, bukannya membabi buta tanpa sedikitpun
logika. Beberapa fatalnya akibat kultus individu yaitu :
- masyarakat jadi
menyalahkan ajaran yang dibawanya, yang dalam hal ini adalah islam. Padahal
jelas yang salah bukanlah agamanya, namun orang-orangnya dan penyalah
tafsiran kitab sucinya
- masyarakat jadi
melupakan budi baiknya selama ini. Bahkan tidak sedikit orang yang
meneladaninya. Karena apa? Karena saat masyarakat memandang individu
sebagai figur, secara tidak sadar masyarakat tersebut mencabut hak
individu yang menjadi figur tersebut untuk berbuat salah, atau dalam
bahasa halusnya, manusiawi.
Tulisan ini sebenarnya hanya berusaha menjadi
trigger, baik untuk diri sendiri maupun untuk pembaca sehingga semoga dikemudia
hari terjadi diskusi yang sehat dan mencerahkan. Agar kita semua tidak asal
poligami. Agar kita semua tidak asal menikah lantas cerai. Agar kita semua
tidak asal memuja atau mencela. Agar kita belajar dari sejarah dan semoga tidak
mengulang kesalahan yang smaa. Dan agar kita semua berusaha dan terus berusaha melakukan
yang terbaik untuk kemajuan bersama.
Dan Tuhan dipatuhi dengan Ilmu
Jakarta Selatan di meja makan, Nur Aini 17 Mei 2007
Dini hari
cerita ini berawal dari obrolan2 panjang dengan Ajee, salah seorang temanku yang juga selalu inspiratif dan aspiratif. intinya dia ngepush gw untuk move on dan berdiri tegak kembali (the question is, emangnya pernah?). akhirnya setelah beberapa kali omongan panjang lebar dia berhasil meyakinkanku untuk belajar ikhlas. wow, kaya gampang aja...
Aku mulai ngebrain wash diriku sendiri untuk "LUPA, LUPA, LUPA!!!!). ga ada lagi ritual mencari motrnya di lapangan parkir kampus. ga ada lagi doa dalam hati pengen ketemu dia atao berharap disms dia. ga ada. dan beberapa hari di kampusku menjadi bahagia dan menyenangkan tanpa beban.
anehnya, pas aku nyoba belajar ikhlas.... aku malahan tiap hari ketemu dia. berada dalam satu ruang kuliah yang sama, papasan ma dia di segala penjuru kamp[us seni rupa blablabla. malahan sempet papasan malem2 di selasar SR depan parkiran malem2 gtu. yah, saat itu dari jauh aku dah bisa ngebaca siluet khasnya.
otomatis aku pura-purakaget. what a coincidence!!! beberapa waktu aku gak bsa kontrol muka dan tentu saja hati. tapi akhirnya terkontrol kembali. kita berbicara sebentar, lantas aku dan dia melanjutkan perjalanan.
hebatnya saat itu aku gak ada keinginan sedikitpun untuk memalingkan wajah ke belakang, untuk sekedar menatapnya lekat2. meski dalam hati aku luar biasa penasaran dengan segala kejadian 'accidental' ini.
kalo kata Oprah, "there's no coincidence". and i believe that. yang menenangkan, bedanya Ani dulu dengan sekarang adalah :
OLD ANI: ini pasti pertanda...oh, senangnya!!! (dilanjutkan dengan hati seneng ga jelas sendiri dan denan senang hati menceburkan diri ke lumpur penantian yang mematikan)
NEW ANI: Yup, There's no coincidence! Tuhan memang mempertemukan kita, namun itu cuma salah satu caranya untuk mengujiku, menguatkan tekadku.tujuanNya kali ini mempertemukan kita kembali adalah menguatkan hatiku, bahwa kamu adalah masa lalu.
it's so refreshing being the new me!! hehe
Why girls always choose the wrong guy in her life? May be to makes her respect the right one, when she finally found him? But if that’s the answer, how about the girls who died young because of broken hearted by her first love? Not suicide just died. Because if she died in that way, you might said, “oh, honey, you even don’t give yourself chance to life. How can you hope that much in life? ”. May be she died because she’s sick before they broke up, and it’s just getting worst when it happens. Or she had a traffic accident because she’s too sad and didn’t mention the traffic lamp that much. Ok, you might say that I am such a drama queen, but it can be happen, right? Besides I am still a girl, and as you know, every girl in this planet has a potential talent to be a drama queen.
Another thing, why love always be a big problem for girls? Men can easily fix their broken heart and go on with their life. Not all of them of course, but most of them does. And the ironic fact is, so many girls failed, really failed, when they broken hearted. Let’s blame the Cinderella story who makes so many girls thought that someday a prince will come and fulfill their dreams. And then practically everything will end up with the happy ending. Or the Princess Aurora folk’s story, where the princess falls asleep for a hundred years and then suddenly woke up by a kiss from the Prince. So simple (or fake?). Ha-ha, tell me about it!
Now you see me as a cynical pathetic person who got broken hearted so many times and then became the worst enemy of love, for hoping that I can finally found my right man whom I can spend the rest of my life with. That’s true if you want to see trough such perspective. And also true (not trying to be defensive) that I’m just trying to see the reality and leave that entire fairy ‘fake’ things behind. Because the truth is, you have to open your heart first before you try to find the right one. But there’s something that you must remember, after you found him, everything’s not suddenly ended up with a happy ending. You must keep that relationship; pour them with the water of love and some warmth light of romance, which will take care of it perfectly like plants. Keeping a relationship is not about only sit and then you suddenly realize that “Oh my God, You weren’t the perfect one?”. One thing that you should give an underline is that you can have the perfect one. Because actually, it’s just about what you think about it, that’s what really matters. Or, maybe the definition of perfect is about time and needs. When the right time has come, he became the perfect person. Or when you need his figure, he is the perfect one. That’s why we called him the right man. At least, the ‘Right Now’ man (chuckles).
Secara gak sengaja, malam ini –untuk membunuh kekesalanku karena nggak dapet travel ke Jakarta-, aku ke Warnet bareng Rilies Ogi. Saat itu, seperti biasa, aku memenuhi Bulletin Board dengan limbah-limbah pikiran yang seakan tak mau berhenti. Yah, memang sudah bukan rahasia lagi bulletin board menjadi ‘wadah spiritualku’ untuk memanipulasi pikiran untuk sedikit melambat. Setidaknya kini aku tahu salah satu cara untuk sekedar berhenti berpikir. Saat itu, aku juga membuka blogku dan beberapa temanku yang salah satunya adalah Tarlen. Di salah satu blognya, ada judul yang sangat menarik “Last Time I Committed Suicides”.
Aku langsung berpikir bahwa dia benar-benar penulis yang baik karena bisa membuat judul singkat padat menarik satirik seperti itu, dan jelas kupikir hal itu bukan karena dia benar-benar pernah ingin melakukannya. Alam bawah sadarku berkata, “Mana mungkin Tarlen yang hebat itu pernah berpikir untuk bunuh diri?.” Tetapi ternyata pikiranku salah.
Berangkat dari tulisan itu, aku kembali terbang ke masa silam ku. Masa yang selalu kusangkal. Titik terburuk dalam hidupku, yang bahkan hingga kini aku belum pernah benar-benar bangkit Persisnya januari 2007, Alvin jadian lagi sama perempuan seangkatanku. Dia cantik, menarik, supel dan seksi. Ya, seksi. Bandingkan dengan badan papan triplek dengan bahu bidang khas pria punyaku.
Aku sadar, hal itu sangat dangkal, emosional dan kekanak-kanakan. Peristiwa itu jelas bukan apa-apa dibanding Tarlen yang jatuh saat kehilangan ayahnya. Tapi perlu disadari pula setiap orang memiliki tingkat perasa dan titik sensitifitas yang berbeda. Tetapi, hasil dari peristiwa berkabut hitam itu, jika kita mau terus berusaha tetap sama, sebuah peredifinisan dan pemahaman kembali diri sendiri, berdamai dan menerima diri sendiri untuk pada akhirnya menghasilkan energi positif untuk melangkah kembali.
Saat aku merasa semua kebanggaan, harga diri, kebaikan, cinta dan kehangatan diri telah hilang, saat itulah aku menapaki jejak-jejak masa lalu. Bukan untuk sekedar romantisme, tapi lebih pada upaya pembelajaran diri.
Kini, aku mulai berani menghadapi (bukannya menyangkal) kenyataan sebenarnya dalam hidupku dan menganalisanya. Dan agar analisa ini bisa berjalan secara tuntas, mungkin ada baiknya memulai dari lingkungan keluarga dan masa-masa awal kehidupanku di dunia.
Aku adalah perempuan yang lahir dan tumbuh dari keluarga Jawa dengan norma Jawa Islam. Anak perempuan terakhir dari keluarga yang merantau ke Jakarta dengan jarak 9 tahun dengan kakak terdekat. Saat mataku berbinar membaca berkali-kali komik Candy-candy lantas meniru gambarnya, kakak perempuanku sedang rajin-rajinnya parkir di tiap tempat hiburan malam. Selain itu, orang tuakupun tampaknya kaget dengan anak yang tak terduga ini. Rupanya persediaan dana hanya sampai pada kakakku yang ketiga. Hasilnya mudah ditebak. aku jarang sekali liburan ke keluargaku di Jawa Timur, atau sekedar piknik hangat tiap akhir pekan seperti yang kakak-kakakku rasakan saat kecil. Serta-merta ‘pengeluaran-pengeluaran yang tak penting’ itu ditiadakan. Aku hanya bisa menatap iri foto kecil kakak-kakakku bersama badut Dufan atau foto mereka sambil mengendarai gajah. Aku bahkan baru bisa mengendarai sepeda saar usiaku menginjak 21 tahun!
Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya menerima kesepian sebagai teman dekatku. Mungkin saat aku harus berangkat ke TK sendirian berjalan kaki dengan jarak tempuh kurang lebih 1 KM (aku belum pernah benar-benar mengukurnya. Yah, kira-kira satu setengah kali perjalanan dari kosanku ke BIP). Lucunya, kenyataan ini baru kusadari saat aku jalan sama Ijul jam 5 pagi. Saat itu aku naik Jagur mau ke Lembang. Ketika itu hari pertama penerimaan anak baru, jadi anak SD yang baru menapakkan jejak di bangku SMP menjalani kaderisasi hari pertamanya.
“ Liat tuh, orang tua ngiringin pake mobil anaknya yang baru masuk kuliah, takut kenapa-kenapa. Lucu yah Mbak”
aku hanya bisa bilang “Hah?”, karena pemandangan ini asing bagiku. Kalaupun pemandangan ini pernah mampir dipelupuk mataku, pastilah luput dari perhatianku. Karena apa? Karena sejak kecil aku selalu berangkat sekolah sendiri, tidak ditemani. Aku ingat setiap malam hari pertama masuk sekolah aku akan sangat ketakutan karena aku sendirian. Takut sendirian, takut tidak memiliki teman. Aku memang iri dengan teman-temanku yang diantar jemput orang tuanya. Sedangkan aku? Kalaupun ada yang menjemput, itu pasti pembantu! Bedanya dengan sekarang, dulu aku selalu malu karena tidak ada yang mau mengantarku, karena serta-merta aku berpikir aku ngga cukup berharga untuk sekedar diantarjemput. Sekarang aku mampu melihat hal itu sebagai salah satu proses pendewasaanku.
Sejak kecil akupun selalu berusaha keras untuk memiliki teman main. Sialnya aku anak perantauan yang hiperaktif tapi selalu disuruh kalem sama orang rumah (karena perempuan Jawa harus anggun adanya….). hasilnya mudah ditebak, aku menjadi liar di luar sana. Ibu teman-temanku tidak menyukaiku karena aku lompat-lompatan diatas sofa mahalnya. Mereka hanya diam dengan muka masam tanpa kutahu sebabnya. Andaikan mereka mengatakan itu sekali saja, mungkin aku takkan terlalu terlambat untuk mengerti hal itu (hei…. Aku kan baru lima tahun saat itu?) Selain itu, seberapa keraspun aku berusaha diterima, aku tetap orang asing buat mereka. Karena mereka adalah sekumpulan keluarga besar betawi dan aku, bagaimanapun, hanya anak tetangga yang ikut nimbrung disana.
Saat kecil, aku selalu merasa sepi dan sendiri. Ayahku sibuk menjaga toko, dan kakak-kakakku sibuk menggeluti dunianya. Meskipun usaha ayahku untuk membangun keintiman denganku dapat kurasakan saat dia membayarku mencabuti rambut putihnya sambil mendongengkan kisah Jaka Tarub atau Bawang Putih Bawang Merah.
Sedangkan ibuku? Saat kukecil dia tampil sebagai sosok penyihir jahat yang selalu marah, memukul dan memaki. Kini, aku masih beranggapan bahwa aku tidak berhak mendapat setiap pukulan yang dia berikan. Aku adalah anak kecil yang belum tahu banyak, dan yang ibuku lakukan bukanlah mencoba membuatku mengerti, tetapi memaksaku bungkam dengan kekasarannya.
kesepian itu semakin lama semakin mampu kuatasi. Untungnya, pelan-pelan aku menemukan beberapa orang teman yang bisa kupercaya untuk melongok hatiku kedalam dan merasa nyaman karena mereka tetap ada. Meskipun kuakui aku saat ini masih berada dalam wilayah gelap, pelan-pelan aku menemukan apa yang kuperlukan untuk mencintai dan menghargai diriku.
Kini aku sadar, ketergantunganku yang besar pada Alvin didorong karena kebutuhanku akan sosok figur lelaki dalam hidupku. Aku sayang ayah dan kakakku, tetapi tidak tercipta keintiman diantara kami. Ayahku sibuk mencari uang sedangkan kakakku sibuk dengan fase pubertasnya. Kini aku sadar, Alvin dan Ijul merupakan blue print dari ketiga lelaki pertama dalam hidupku (ayah dan dua kakakku). Kepintaran, kerja keras, kegagahan, kelelakian, emosional bahkan kekasaran sekaligus kelembutan mereka tak lain merupakan manifestasi dari lelaki dalam keluargaku.
Setahap demi setahap aku melihat kejatuhanku sekarang ini adalah hukum alam yang Tuhan ciptakan agar aku melihat kembali masa laluku, membedahnya, meredefinisikannya, lantas memahami dan menerimanya, bukannya terus-menerus menyangkal dan menutup mata. Karena kalau tanpa Alvin, aku takkan sadar permasalahan-permasalahan dalam hidupku, baik yang kecil nyebelin (karena tidak langsung berusaha diselesaikan) lantas menggunung sampai yang cukup rumit untuk diutarakan.
Peristiwa Januari 2006 lalu bukanlah penyebab kenapa aku sejatuh ini, tetapi hanya sebagai trigger. Hanya menjadi sebuah alasan mengapa pada akhirnya aku berani untuk mengambil ruas jalan yang lain untuk tujuan yang semoga mengantarkan pada titik kebaikan yang sama. (Sekarang kamu tahu kan Vin, kenapa aku ingin sekali kamu kembali lagi dalam hidupku? Karena kamu mengajarkan banyak, terlalu banyak dari yang mampu kutuliskan. Bahkan jauh dari yang bisa kamu bayangkan. Tapi kini, benar-benar sebagai seorang teman baik… percayalah.)
Sebenarnya esensinya kurang lebih sama. Tarlen jatuh karena kehilangan pegangannya, sedangkan aku tidak pernah benar-benar memiliki pegangan, bahkan diriku sendiri tidak dapat kuandalkan. Aku selalu bergerak mencari pegangan, mencari role model yang selalu bisa kuandalkan, berusaha menemukan figure lelaki yang bisa membuatku merasa nyaman dan aman dan membuatku percaya, AKU PANTAS DISAYANG setelah beribu penolakan dan jatuh bangun yang kurasakan.
Busro pernah bilang bahwa saat paling menyedihkan bukanlah saat kita jatuh dan sendiri, tapi saat kita senang dan tidak ada seorangpun ada disamping kita untuk benar-benar merayakan. Dan aku sering mengalaminya. Karena apa? Karena aku terlalu takut untuk membuka diriku kepada orang lain, lantas mereka dengan mudahnya mencuri hatiku yang kini kurang dari separuh. Tampak lebih mudah menerima kesepian sebagai satu-satunya sahabatku. Namun serta-merta kesepian itupun mencuri seluruh kehangatanku, kepercayaan diriku, bahkan diriku yang sebenarnya.
Aku jadi teringat film Prozac nation yang cemerlang dibawakan oleh Christina Ricci. Film itu berkisah tentang seorang penulis yang juga memiliki latar belakang sama denganku tapi lebih ekstrim. Orang tuanya bercerai dan dia harus tinggal bersama ibunya yang depresi. Segala harapan yang tidak pernah berhasil diwujudkan ibunya dalam hidup tertumpah pada anak satu-satunya. Kini aku baru sadar, mengapa aku benar-benar menyukai film sakit itu (awalnya karena kupikir aku juga sama ‘sakit’ dengannya). Karena kita berdua sama-sama mencari figur lelaki dan saat beranjak dewasa berharap dapat menemukan itu dalam hubungan romantisme kita.
Kini, perlahan-lahan aku percaya bahwa aku pantas disayang. Tapi sebelumnya, sebelum aku menerima kasih sayang, aku harus belajar banyak untuk menyayangi diriku sendiri. Belajar untuk terbuka, baik dengan diriku maupun orang lain.
Dan dalam perjalananku, aku sangat berterima kasih dengan role model yang datang dan pergi untuk memberikan pelajaran yang kuperlukan untuk memahami diriku lebih baik lagi. Untungnya meskipun pikiran untuk bunuh diri juga pernah datang dalam diriku, aku masih memberikan kesempatan pada diriku untuk melanjutkan langkah meski patah-patah.
Semoga suatu hari aku akan mendapatkan giliranku untuk membalik energi negatifku menjadi sebaliknya. Amin
Nur Aini
Draft 17 Maret 2007
02:14
Aku
tidak ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti
sapardi dalam puisinya
Aku
ingin
Kamu
tahu aku cinta
Alangkah
baiknya jika kamupun juga
Lantas
kita belajar mencinta
Mencoba
membagi rasa
Meskipun
toh jika pada akhirnya sama-sama terluka
tapi
jika kau tak memiliki rasa yang sama?
Setidaknya
Aku
belajar mengungkap rasa
2 desember 2006,Sesaat
setelah bertemu dengan Sapardi Joko Damono di Potluck book’s fest
Ingin
kukembali
Menengok
serpihan memori semasaku kecil
Meski
kutahu saat itulah kenangan tertawa
Ingin
kusejenak menegok apa yang pernah terjadi
Meski
aku takkan pernah mau berharap semua itu kembali
Karena
angan itu terlalu sakit untuk dimiliki
Aku
hanya ingin disini
Sekedar
meresapi
Rahmat
Tuhan yang belum pernah benar-benar
Kusyukuri
Nur Aini
Bandung, 10 Januari 2007
02:19
Jika tiba waktuku untuk menutup hari
Saat terakhir kali aku melihat cahaya dan
bintang menari
Atau mendengar tawa renyah dari orang-orang
yang kusayangi
Kuharap takkkan ada sesal dihati
Tak ingin aku mengutuki diri
Bersimpuh meratapi yang telah terjadi
Tanpa kebanggaan dan perasaan berarti
Aku ingin saat menjelang tiba waktuku,
Aku akan tersenyum puas melihat kilas balik
pendewasaan diri
Rasa sakit dan sulit yang berbuah manis
Serta pencapaian yang bukan hanya untukku
sendiri
Tapi berguna jua untuk bumi pertiwi
Aku ingin saat aku mengucap selamat malam pada
semesta
Ada orang yang kusayang menggenggam tangan
Bukannya sendiri tanpa seorangpun menemani
Karena saat tidur aku sendiri
Maka izinkanlah Tuhan,
Aku merasakan kebersamaan yang nantinya akan
lama tak kurasa
Nur Aini
21 Desember 2006
Selama
ini aku mencintai seonggok batu
Sayangnya
akupun batu
Yang
bilamana bertemu hanya akan pecah terbelah
Karena
itulah aku belajar untuk menjadi air
Namun
air saja tak cukup, katamu
Karena
kamu membutuhkan air yang memiliki tekanan
Kecil
tapi selalu ada
Bukan
derasnya air terjun atau gemericik air yang hanya mengalir
Namun
tidak meninggalkan bekas
Hanya
rasa basah yang hilang saat kamu
bermandi
cahaya mentari
Bandung, 10
januari 2007
Nur
Aini
Pernah kumencoba mengungkap cinta
Meski ratusan aksara kurangkai
Tetap tak kunjung buatmu untuk mengerti
Pernah kumencoba menceritakan angan
Namun hingga bisu mulut ini
Masih saja tak sanggup membuatmu turut
merasakan
Dalam samar kau lantas berkata
Cinta dan angan bukan untuk diungkapkan
Tidak juga untuk diceritakan
Namun untuk direalisasikan
Bandung, 10 Januari 2007 02:27
Nur Aini
 | Fase Asa | Jan 25, '07 8:55 AM for everyone |
Seperti bunga yang kuncup lalu mekar lantas layu Mungkin seperti itu pula ritme yang mengalun dalam asa kita Namun jika layu meniadakan
Apa semudah itu asa berpulang?
Waktu
memang mampu mengubah segala sesuatu. Termasuk kamu. Yah, kamu yang
dulu kerap bersinar sehangat mentari, bahkan kata-katamupun mewangi.
Bagai embun pagi, kamu selalu mengantarkan rasa dingin yang lembut
merasuk kedalam paru-paru, lantas menyentuh kalbu yang kekeringan.
Belum lagi dua butir permata yang tertanam di dalam indahnya matamu,
kerap membutakan hati siapapun yang melihat ke dalam. Tapi itu dulu.
Sekarang kamu teronggok didepanku setelah beberapa kali mengeluarkan
isi perut, karena meneguk minuman pahit yang bahkan tidak kau suka.
Aku tahu kamu terluka, meski kau coba menyembunyikannya dengan
membubuhkan pewarna sintetis di semestamu yang kini kedap warna.
Luka yang sangat jelas mengabuti hitam semestamu pekat. Sekarang yang
ada hanya kelam, padahal bukan malam.
Sebelum
kamu teronggok lemas dan bisu suara, kamu terlalu banyak bicara.
Perkataan yang tidak akan menyakiti siapapun, kecuali dirimu sendiri.
Saat kamu bilang kamu membenciku, aku memang sedih dan kecewa. Tetapi
aku jauh lebih kecewa saat mendengarmu ingin menjemput mati. Mana
mungkin gadis yang dulunya selalu bersemangat menaklukan dunia kini
patah hanya karena luka cinta. Namun, sepersekian detik selanjutnya
akupun tersadar bahwa aku telah menghilangkan hakku untuk merasa
kecewa denganmu saat aku memutuskan untuk meninggalkan semestamu,
tidak lagi mendampingimu.
Aku
tahu, didalam hatimu yang kini biru-biru, kau masih mengharapkan aku
datang dan membawa penawar sakit yang kini meraja. Namun tembok
berduri yang kekar megah disekeliling hatimu tidak juga kau
runtuhkan. Lalu dengan cara apa aku dapat kembali masuk menemani
hatimu yang kesepian tanpa harus ikut mati kesakitan? Sedang kamu
bagaikan bom waktu berjalan yang siap menghancurkan apa saja,
termasuk dirimu sendiri.
Aku
tahu, kamu pasti kecewa padaku karena aku menepi saat melihat
semestamu yang porak poranda. Semesta yang kini dilukis dengan tinta
hitam yang tak berujung pangkal dengan semburat merah darah
menggantung di langit yang kelelahan. Sebentuk semesta yang
mentarinya adalah cinta, namun kini hilang entah kemana.
Mungkin
harusnya aku menuntun semestamu yang pincang lantas menemanimu
mencari mentari yang hilang itu. Atau menghadiahkanmu sebongkah
mentari kecil yang akan tumbuh besar seiring bergulirnya waktu.
Tetapi kamu sungguh petualang sejati. Kamu tentu takkan mau terlihat
lemah dengan satu tangan bergantung di pundakku. Kamupun pasti tak
butuh mentari hadiah yang terlalu mudah kau peroleh. Lantas, apakah
aku salah membiarkanmu menata kembali seluruh semestamu sendiri?
Dan
di ujung lazuardi itu, kamu melihat jelas gerak semestaku yang
memesat. Tetapi seluruh tenagaku memang untuk membangun menara
pencakar langit. Toh kamu tahu bahwa aku selalu ingin mengalahkan
langit sombong itu, menggapainya dalam genggamanku lantas menggantung
tinggi melebihi langit lapis ke tujuh. Tempat terjauh yang mungkin
pernah diraih manusia.
Kamu
melihat mentariku penuh rasa dengki, kadang sambil sedikit meringis
iri. Padahal mentarikupun tidak pernah kau sukai. Tetapi tetap saja
kamu benci karena aku memiliki mentari yang selalu siap menyinari.
Kamu kerap bertanya bagaimana mungkin aku bisa memiliki mentari yang
begitu setia sedang dirimu hanya memberi kesetiaan yang ternyata
sia-sia.
Namun
saat aku berkata bahwa resepnya hanya hati yang terbuka, kamu bahkan
langsung menutup mata. Padahal jika kamu sedia membuka mata sedikit
saja, kamu akan mendapati banyak mentari yang mau berbagi. Memang
bukan mentari yang telah meninggalkanmu pergi, karena kita sama-sama
tahu dia tidak akan kembali. Yah, anggap saja mati.
Mentari-mentari
ini berbeda dengan mentari yang dulu mengelilingi, karena toh kita
tahu tidak ada yang sama pasti. Tetapi bukan berarti mentari-mentari
itu tidak bisa membawa warna yang kaukehendaki. Bahkan mungkin
mentari-mentari tersebut mampu membuatmu melihat warna yang belum
pernah kautemui. Atau bisa juga menawarkan arti lain dari malam.
Bukan hanya sekedar kelam (Andai saja kamu mau memberi kesempatan
pada hatimu untuk mencinta lagi. Mungkin luka itu tidak akan terlalu
perih untuk kautanggung sendiri).
Kini
hanya untaian doa terlantun yang mampu kuberikan untuk mengiringimu
mencari mentari
sejati.
Karena kamu telah memilih jalan setapak yang sepi dan terjal untuk
kaudaki.
Semoga
keselamatan selalu menyertai dan kamu mendapatkan apa yang kau cari.
Nur
Aini,
|
|